Minggu, 25 Oktober 2015

Kita Tak Sama

Rio berteriak sekencang-kencangnya di ruangan karaoke berukuran medium. Beberapa minggu yang lalu, ia disuruh orang tuanya untuk putus dengan pacarnya. Sedikit kemungkinan ia bisa terus bersama dengan pacarnya karena perbedaan keyakinan. Tetapi ia tidak langsung mengatakan itu kepada pacarnya. Rio menunggu waktu yang tepat untuk mengobrolkan hal ini kepada pacarnya. Ia tak mau menyakiti hati pacarnya tetapi ia juga tak mau menyakiti hati orang tuanya.

Rio mencoba mengobrol kembali dengan orang tuanya.
"Ma, mama benar-benar yakin menyuruh Rio putus dengan Elsa?" tanya Rio cemas. Ia berharap mamanya telah berubah fikiran.
"Iya, mama sangat yakin" tangan wanita berusia 50 tahun itu menyentuh pundak Rio.
"Tapi ma, Rio sayang banget sama Elsa" mata coklat nan indah itu memandang ke arah sang mama dengan penuh harapan agar hubungan mereka direstui.
"Untuk saat ini mama meminta kamu putus dengan Elsa" wanita itu meninggalkan Rio yang sedang terduduk di ruang tamu bertembok warna biru langit.

Selama beberapa saat, Rio hanya terdiam duduk di sofa dan meneteskan air mata. Tak pernah terfikirkan olehnya kalau semuanya akan jadi seperti ini. Perbedaan keyakinan membuat hubungannya dengan Elsa harus berakhir karena tak mendapatkan restu dari sang mama. Rio segera mengambil handphone dan menelfon Elsa untuk mengajak ketemuan.Telfon tersambung.
"Hallo sa, kamu lagi apa? Bisa kita ketemu sekarang?" tanya Rio terburu-buru.
"Kalau mau nanya satu-satu dong" jawab Elsa manja.
"Eh iya maaf sa, hari ini keluar yuk, aku kangen".
"Tumben bilang kangen, biasanya juga gengsi bilang kangen duluan" ejek Elsa.
"Pokoknya aku jemput kamu sekarang".
"Oke abang"

Mobil honda civic putih milik Rio segera melaju ke rumah Elsa daerah Sukajadi. Jalanan terlihat begitu padat sehingga Rio terpaksa memperlambat laju mobilnya. Rio melirik jam tangan berwarna silver di tangan sebelah kirinya. Jam menunjukkan pukul 18.44, "aahhh sial... pake acara padat merayap segala nih jalan" lirih Rio kesal. Perjalanan ke rumah Elsa bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Cilember, berhubung jalanan padat merayap seperti ini bisa 45-60 menit.

Setelah sampai, Rio segera memarkirkan mobilnya di depan rumah Elsa. Rio membuka pagar bewarna hitam dengan model minimalis bertutup fiber berwarna putih. Elsa sudah menunggu di depan pintu rumah dengan ayahnya. Sebagai cowo yang baik, Rio meminta izin kepada ayah Elsa.
"Malam om, Rio mau minta izin ngajak Elsa makan di luar" pamit Rio gugup.
"Mau makan dimana? om boleh ikut?".
"Haahh?" jawab Rio kaget.
"Om cuma bercanda haha ya sudah katanya mau pergi, tapi pulangnya jangan terlalu malam ya!" perintah ayah Elsa.
"Iya siap om" Rio salam ke ayah Elsa.
"Elsa berangkat dulu ya yah, dadah ayah" pamit Elsa.
"Hati-hati dijalan" jawab ayah Elsa dan kemudian masuk kedalam rumah.

Di dalam mobil Elsa menyalakan radio, menyetel frekuensi 106.3 saluran favoritnya. "Kamu mau makan apa sa?" tanya Rio.
"Ga tau, tapi aku lagi pengen ice cream" ujar Elsa.
"Ya sudah, kita ke kabut salju aja yu" Rio menegaskan tujuan mereka.
Rio sengaja memperlambat laju mobilnya agar bisa menikmati detik-detik terakhir kebersamaan mereka sebagai sepasang kekasih. Selama perjalanan Rio hanya terdiam. Ia bingung harus memulai dari mana pembicaraan ini. Sementara Elsa menikmati siaran radio frekuensi favoritnya.
***

Mereka tiba di cafe kabut salju, Rio memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk Elsa. Pramusaji melemparkan senyum kearah mereka dan menyapa mereka.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu" sapa pramusaji.
"Malam, ada bangku kosong untuk 2 orang?" tanya Rio. 
Cafe terlihat penuh. Banyak pengunjung yang sedang menikmati quality time bersama teman-temannya dan ada juga pengunjung yang menikmati quality time bersama kekasihnya.
"ada mas, silahkan" pramusaji menghantarkan mereka ke salah satu meja kosong. Meja nomor 5. "mau pesan apa mas?" tanya pramusaji.
"Menu recommended disini apa?" tanya Elsa.
"Affogato dust dessert dan mathca soft dessert mba".
"Kamu mau pesan apa sa?" Rio menanyakan pesanan Elsa.
"Mathca soft dessert aja, kalau kamu bang?" Elsa balik menanya kepada Rio.
"Ya udah, mathca soft dessert nya 2 ya mas" Rio menyebutkan pesanan kepada pramusaji.
"Ada pesanan yang lain lagi?" pramusaji kembali menanya.
"Tidak mas, itu aja" tegas Rio. Pramusaji segera menyiapkan pesanan mereka.

Tidak sampai 10 menit. Matcha soft dessert pesanan mereka datang. Ice cream greentea dipadukan dengan arumanis menghiasi meja nomor 5. Elsa memulai pembicaraan. ia menanyakan apa alasan Rio mengajak ketemuan mendadak seperti ini dan tumben-tumbennya Rio mengucapkan kata kangen. Karena selama 10 bulan pacaran, Rio jarang sekali mengucapkan kata kangen bahkan bisa dibilang tidak pernah mengucapkan kata kangen duluan. Ini bukan Rio yang Elsa kenal selama hampir 1 tahun ini. Rio yang Elsa kenal itu penuh dengan rasa gengsi. Rio tidak pernah memanggil Elsa dengan sebutan sayang dan tidak pernah memberikan Elsa bunga layaknya pasangan lain. Karena Rio bukanlah tipe cowo romantis.

Akhirnya Rio menjelaskan maksudnya mengajak Elsa ketemuan.
"mama aku ga setuju aku pacaran sama kamu" ujar Rio
"karena aku dan kamu beda keyakinan?" tebak Elsa
"iya, mama aku mau kita putus" Elsa terdiam setelah mendengar perkataan Rio barusan.
"aku sayang sama kamu sa, aku ga mau kita putus" Rio melanjutkan perkataannya. Mata Elsa mulai berkaca-kaca, sebisa mungkin Elsa menahan agar air mata tidak membasahi pipinya. "Aku udah coba ngobrol lagi sama mama, tapi mama tetap mau kita putus".
"Terus kita harus gimana bang?" air mata mulai tak terbendung hingga membasahi pipi Elsa.
"Kamu mau pindah keyakinan?" tanya Rio ragu. "Mungkin aku egois, tapi ini satu-satunya cara agar aku ga putus sama kamu sa" jelas Rio.
"sampai kapanpun aku ga mungkin pindah keyakinan bang" air mata semakin membasahi pipi Elsa.
"Kalau begitu terpaksa kita harus putus, walaupun sebenarnya aku ga mau putus sama kamu. Mungkin ini yang terbaik untuk kita" raut sedih bercampur kecewa terpancar jelas dari muka Rio. 

Air mata tidak berhenti mengalir di pipi tembem Elsa. Rio kembali menegaskan status hubungan mereka. "maaf sa, kita benar-benar putus". Rio mengajak Elsa pulang. Sepanjang perjalanan pulang Elsa tidak berhenti menangis. Jam menunjukkan pukul 22.10, mereka tiba di rumah Elsa. Terlihat jelas dari mobil, lampu ruang tamu sudah dimatikan. Mungkin orang tua Elsa sudah tidur. Mereka belum keluar dari mobil. Rio memegang tangan Elsa. Elsa mengusap air matanya lalu memandang Rio dengan tatapan kosong. 

"Jadi kita beneran putus?" Elsa bertanya kepada Rio. "Aku terima apapun keputusan kamu, karena aku tau ------". Belum sempat Elsa menyelesaikan ucapannya. Rio menutupi bibir Elsa dengan bibirnya. Elsa berusaha mendorong tubuh Rio. Tetapi lelaki itu tak mau melepaskannya. Elsa tak dapat bergerak saat Rio memegang bagian belakang kepalanya. "Sekarang kamu masuk ya" Rio mengantarkan Elsa ke depan pintu rumah. "Selamat tinggal Rio" Elsa menutup pintu rumah.

Hari itu hari terakhir mereka bertemu. Hari itu pula mereka saling melepaskan satu sama lain. Bahkan Rio menghapus nomor handphone Elsa, menghapus kontak BBM Elsa, mem-block seluruh akun media sosial Elsa. Sampai detik ini tidak ada komunikasi diantara mereka dalam bentuk apapun.