Sabtu, 04 April 2020

Empat: Pintar Menyembunyikan

Sela menghampiri Riri ke basecamp divisi tata tertib dan tanpa sengaja mendengar obrolan Riri dengan Fajar.

“Eh sorry, aku ga sengaja mendengar obrolan kalian. Aku jadi penasaran sebenarnya hubungan kalian tuh apa sih?”

“Kamu ga denger barusan kita ngomong apa? Sahabat selamanya!.” jelas Riri kepada Sela.

“Iya aku denger. Tapi kok aku ngerasa kalian tuh sebenarnya lebih dari teman. Ngomong sahabat selamanya aja ga pake janjian langsung barengan gitu.”

“Kita punya telepati Sel. Hanya dengan saling liat kita bisa tau isi hati masing-masing. Hahaha” goda Fajar ke Sela.

“Tuh kan udah punya telepati segala. Kenapa ga pacaran aja sih? Biar aku ada temannya. Hahaha”

“Ga usah maksa aku sama Fajar ya Sel. Udah sana pergi ke pacar kamu.” Usir Riri ke Sela.

“Ga mau ah, lagi acara gini ga boleh pacaran tau, ga profesional namanya. Eh iya, kalian kebagian jaga di mana?”

“Tau profesioanl juga kamu Sel. Hahaha. Kita kebagian mantau jalur pos 2 ke pos 3. Kalau kamu di mana Sel?” Fajar menjawab.

Aku kebagian di pos terakhir, kan aku divisi konsumsi.”

Sela ini mempunyai pacar namanya Ginan. Masih jurusan teknik elektro, hanya berbeda angkatan, Ginan sekarang berada di tingkat 3. Sebenarnya Riri berharap ditempatkan di divisi konsumsi bersama Sela, tapi Iqoy lebih memilih mereka dipisahkan entah apa alasannya.

***

Waktu makan malam dan shalat isya untuk panitia sudah berakhir, saatnya kumpul kembali untuk briefing acara hykingBasecamp panitia berada cukup jauh sekitar 25 meter dari basecamp peserta. Briefing kali ini dilakukan tanpa peserta, karena kami akan membahas pembagian tugas dan teknis pelaksanaan hyking. Iqoy mengambil alih acara briefing menyebutkan nama-nama panitia yang akan mengisi pos, menjaga basecamp, memantau area hyking, membacakan peraturan kepada peserta dan yang mengisi pos bayangan sepanjang jalur hyking. Setelah selelai menyebutkan nama-nama yang akan bertugas, seluruh panitia membubarkan diri dan segera pergi ke tempat tugas masing-masing.

 

“Bye, hati-hati selama mantau area hyking. Jar, jagain Riri ya, jangan samapi dia nyasar ke hutan” Sela memberi salam perpisahan sebelum menuju pos tugas mereka masing-masing.

“Siap Sel, aku jaga dengan sepenuh hati. Hihi, selamat menunggu lama di pos 5. Hahaha. Bye”

“Ayo Jar, nanti keburu anak-anak peserta jalan” ajakku ke Jar.

“Bentar Ri, aku ambil perbekalan dulu biar ga haus sama lapar selama jaga.”

“Eh iya bener juga kata kamu. Aku dibekelin wafer tadi sama ibu, biar ga kelaparan kata ibu. Ibu memang pengertian sama anaknya yang satu ini. Hehe” 

“Aku juga bawa biskuit tadi ngambil di toko ayah.”

“Sip deh, nanti kita bisa tukaran makanan. Hahaha”

 

Mereka bergegas menuju tempat tugas hyking malam ini dengan perbekalan makanan agar tidak kelaparan ditengah hutan. Hahaha. Maafkan Riri dan Fajar ya, mereka memang doyan ngemil, walaupun doyan ngemil tapi badan mereka kurus, tidak bisa gendut. Jadi saat-saat dingin seperti ini mereka harus punya perbekalan yang cukup.

Perjalanan dari basecamp panitia menuju pos 2 tidak terlalu memakan waktu, hanya membutuhkan 10 menit. Berhubung hyking kali ini dilakukan malam hari, maka divisi lapangan yang bertugas membuat jalur hyking memperpendek jalur dan jalur yang dilewati tidak curam, hanya melewati jalan yang biasa dilewati oleh para petani. Walaupun tidak terlalu curam tapi jalan yang dilalui sangat becek dan berlumpur, mau tidak mau sepatu putih Riri penuh dengan lumpur.

Sesampainya di pos 2, Riri dan Fajar istirahat sebentar, sedangkan yang berjaga di pos 3, pos 4 dan divisi tata tertib yang memantau antara jalur pos 3 dan pos 4 melanjutkan perjalanan. Kebetulan yang berjaga di pos 2 teman dekat Riri dan Fajar, Giri namanya. Riri, Fajar dan Giri sangat dekat karena mereka sekelas. Giri orang yang kalem dan sangat dewasa dibandingkan dengan Riri dan Fajar. 

Sesaat Riri dan Fajar akan melanjutkan perjalanan memantau area hyking, gerimis turun.

“Yah hujan” keluh Riri.

“Kalau hujan turun bukan ngeluh tapi berdoa, Allahumma shoyyiban nafii’an” Giri menyeramahiku. Giri memang jagonya kalau hal beginian. Hahaha.

“Oh iya. Hehe. Allahumma shoyyiban nafii’an” aku mengulangi doa yang Giri baca.

"Aroma petrikor yang menenangkan, gemercik air berirama merdu biasanya beriringan dengan kejujuran yang akan meluap ke permukaan dengan sendirinya.” Giri mulai bermain dengan kata-kata puitis.

Wait, wait kalau udah puitis begini nih biasanya ada yang mau dia tanyakan.” Riri mulai berhati-hati dengan tingkah Giri yang susah memasuki waktu Indonesia bagian kepo.

Sekarang aku mau tanya sama kalian berdua,”

“Nah kan bener dugaanku, waktu Indonesia bagian kepo di mulai”

“Kamu mau tanya apa Gir?” tanya Fajar

“Kalian berdua ga beneran pacaran kan?” Giri mulai mengintrogasi.

“Enggak lah! Ga mungkin kita pacaran Gir” sahut Riri sewot.

“Aku cuma mau ngingetin kalian. Awal perkuliahan dimulai, kelas kita punya perjanjian. Tidak boleh ada yang pacaran, karena bisa berimbas ke semuanya kalau suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan”

“Iya Gir, aku inget. Lagian kamu kok kayak yang lain sih! Ga percaya sama aku dan Fajar” Riri menjawab ketus.

“Bukan aku ga percaya sama kalian. Tapi yang namanya jatuh cinta bisa kapan saja dan di mana saja. Walaupun katanya kalian hanya sahabatan, tidak menutup kemungkinan kalau kalian saling jatuh cinta. Kalian sama-sama jomblo terus kalian udah kayak prangko dan amplop, kemana-mana nempel terus. Bahkan tiap ada tugas kelompok kalian selalu satu kelompok, tidak terpisahkan pokoknya”

“Jar, kamu kok diem aja sih.” ketus Riri kepada Fajar yang sedari tadi hanya diam melihat Riri dan Giri mengobrol

“Kamu nyerocos terus, gimana aku mau ngomong” Fajar menyentilkan jari ke jidat Riri.

“Aduuuhh, sakit tauuuu. Iya, iya aku ga akan nyerocos lagi” ucap Riri sambil mengusap jidat.


Mata kamu ga bisa bohong Jar. Tatapan mata kamu ke Riri bukan tatapan seorang sahabat, tapi lebih dari itu. 
gumam Giri dalam hati.

“Kamu cuma mau nanya itu doang Gir?” tanya Fajar ke Giri.

“Iya aku cuma mau ngomong itu aja.”

“Aku akan selalu ingat perjanjian kelas kita Gir, tenang aja” jelas Fajar.

Riri terlihat sedang melamun.

“Awas kesambet setan ngelamun di tengah hutan gini” Fajar menyentilkan jarinya ke jidat Riri lagi.

“Aduuuhh, Fajar! Kamu kok seneng banget sih nyentil jidat aku? Sakit tau!” Riri mengerucutkan bibir.

“Abis kamu malah ngelamun, entar kalau ke sambet setan kan aku sama Giri yang repot. Hahaha”

“Sompral ih! Kamu sendiri tadi yang nyuruh aku diem”

Aku masih belum bisa membaca perasaan kamu ke Fajar, Ri. Kamu terlalu pintar menyembunyikan perasaan kamu. gumam Giri dalam hati.

Minggu, 29 Maret 2020

Tiga: Berita Hoax

“Gak lagi deh aku pake sepatu converse kalau lagi acara beginian, licin paraaahh” ngeluhku kepada Fajar


“Banyak gaya sih amu, udah tau makrab di hutan, malah pake sepatu gituan”


“Eh track buat games nanti kayak gini gak? Kamu kan ikut survey minggu lalu?”


“Lebih parah, ada genangan lumpurnya malah”


“Ya Tuhan, sepatu aku putih loh, males banget. Aku tunggu basecamp aja klo gitu deh.”


“Woi, kamu tatib tugasnya mobile bukan diem kayak ratu. Lagian itu sih derita kamu pake sepatu buat ke mall”


“Iya iya aku salah pake sepatu ginian ke hutan, puas kamu!”


“Impas, kali ini aku yang menang. Hahaha.” Fajar ketawa puas melihat Riri kesusahan tracking menuruni bukit ke basecamp makrab.


“Tau ah! Bukannya bantuin malah ngetawain” sifat childish Riri mulai keluar.


“Sini pegang tangan aku”


“Males ah. Aku bisa sendiri kok”


“Yakin bisa sendiri?”


“Yakin!” seru Riri sambil menuruni bukit yang licin.

 

Tidak lama kemudian, “Aduuuhh” Riri terpeleset. Untung ada Fajar yang berjalan tepat di depan Riri. Jadi saat jatuh Riri masih bisa memegang tas Fajar.


“Tuh kan, sok banget sih tadi. Kepleset kan sekarang? Hahaha. Makanya sini pegangan sama aku” Fajar mencoba menolong Riri.

 

Ternyata Ansa dan yang lainnya memperhatikan Riri dan Fajar dari belakang.


“Eheeemm, ada cinta bersemi di Cibodas” ejek Ansa.


Naon sih kang[5] lirih Riri ke Ansa


Nungguan naon deui sih Jar, geura tembak meh jiga Riani jeung Zhafran 5cm, jadian di gunung[6] seru Ansa kepada Dwi.


Mbung ah kang, ripuh bobogohan jeung si Riri mah[7]  Fajar merespon pernyataan Ansa.


Ripuh tapi bogoh[8] Tigor menyaut dengan logat bataknya.


Gandeng lah[9] ucap Riri kesal.


Kalau Riri sudah menggunakan bahasa sunda itu tandanya Riri memang benar-benar kesal.

Perjalanan jadi sedikit lebih lama dari perkiraan waktu, karena track yang mereka lalui memang sangat licin jadi harus sangat hati-hati agar tidak terpeleset dan jatuh ke jurang. Saat tiba di basecamp makrab, acara sudah dimulai. Iqoy selaku ketua pelaksana sedang memberikan kata sambutan. Riri, Fajar dan Tigor segera bergabung dengan panitia lainnya, Ansa dan tingkat 4 lainnya menempati tempat yang telah disediakan untuk tamu undangan. Acara makrab ini adalah acara tahunan himpunan untuk menyambut anggota baru sekaligus pembagian jaket himpunan untuk anak-anak tingkat 1.


Setelah Iqoy memberikan sambutan, dilanjutkan dengan Zaky selaku ketua himpunan memberikan sambutan sekaligus membuka acara makrab ini. Semua panitia dan peserta sangat hikmad mengikuti acara pembukaan makrab ini. Suasana berubah seketika, saat tengah-tengah acara Ansa menyebarkan berita hoax bahwa Riri dan Fajar berpacaran. Gosip antara Riri dan Fajar menyebar dengan cepat saat acara masih berlangsung. Hey, jangan salah baby. Walaupun jurusan ini mayoritas dihuni oleh makhluk Tuhan yang disebut laki-laki, tapi kelakuan mereka melebihi ibu-ibu komplek yang suka bergosip di tukang sayur keliling. Bagaimana tidak, berita yang masih belum jelas kebenarannya sangat mudah menyebar dan semua orang memercayai itu. Bisa kalian bayangkan, jurusan yang seharusnya sangar dan elegan itu langsung seperti kumpulan ibu-ibu komplek yang sedang bergosip dengan tukang sayur. Hahaha. Tenang, semua ini hanya terjadi di kampusku tidak di kampus lain.

 

Acara pembukaan makrab berjalan dengan lancar, meski dibumbui oleh ibu-ibu komplek yang bergosip. Oops, maksudku teman-teman Riri yang bergosip. Hahaha. Berlanjut ke acara makan malam dan Shalat Isya, Sela teman seangkatan Riri menghampirinya.


“Kamu dari mana aja Ri baru sampe pas acara udah mulai?” tanya Sela.


“Aku udah sampe dari tadi jam 5, cuma diem di atas dulu nunggu kang Ansa sama yang lain” jelas Riri ke Sela.


“Kamu jadi berangkat sama Fajar?”


“Jadi Sel, lama banget aku nunggu. Jam 4 baru sampe kampus coba, nyebelin kan si Fajar. Ya udah aku bikin malu dia di lampu merah Simpang Dago”


“Emang kamu ngapain Ri?”


“Aku nyanyi lagu I heart you kenceng banget. Kamu tau kan kalau suara aku sumbang. Hahaha” ketawa Riri puas.


“Hahaha, dasar kamu. Eh tapi kalian berdua tuh kayak orang pacaran tau, kemana-mana berdua mulu, udah gitu berantem abis itu baikan. Gitu aja terus sampe lebaran monyet”


I don’t care what do peoples think about us. Aku sama Fajar ga ada hubungan apa-apa. Beribu kali aku jelasin ke orang-orang pun pada ga percaya.” Jawab Riri ketus.


“Awas aja kalau kamu bohong soal hubungan kamu sama Fajar ke aku.”


“Udah ah, aku mau kumpul sama anak-anak tatib dulu. Bye!” pamit Riri ke Sela.


“Okey, Bye

 

Sesampainya Riri di basecamp divisi tata tertib, Riri, Fajar dan anak-anak tata tertib lainnya melakukan rapat internal divisi. Seperti yang Riri katakan sebelumnya, kalau divisi tata tertib bertanggung jawab untuk menertibkan peserta dan panitia sekaligus menjaga ketertiban acara. Rapat internal kali ini membahas pembagian tugas masing-masing anggota, ada membacakan tata tertib hyking kepada peserta dan panita, ada yang memantau jalur hyking untuk memastikan semuanya aman dan ada yang menjaga barang-barang peserta dan panitia di basecamp. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Riri dan Fajar ditugaskan bersama, mereka bertugas memantau jalur hyking dari pos 2 ke pos 3. Saat rapat internal selesai, semua membubarkan diri tersisa Riri dan Fajar.


“jar, maafin aku ya atas gosip yang beredar. Aku takut kamu malah jadi ga nyaman karena gosip kita pacaran” lirih Riri.


“Kamu kayak ga tau kelakuan mereka aja Ri”


“Tapi kamu ga bakalan berubah kan Jar ke aku hanya karena gosip ini” Riri mulai berbicara serius.


“Ri, sampai kapanpun sikap aku ke kamu ga akan berubah. Pegang janji aku”


“Janji?” menyodorkan jari kelingkingnya ke Fajar.


“Janji!” Fajar menyilangkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Riri.


“Sahabat selamanya” Riri dan Fajar kompak menyebutkan itu sambil ketawa.



[5] Apa sih kang.
[6] Nunggu apa lagi sih
Jar. Cepetan tembak, biar kayak Riani sama Zhafran 5cm, jadian di gunung

[7] Ga mau ah kang, repot pacaran sama Riri
[8] Repot tapi suka kan
[9] Berisik kalian!