Sela menghampiri Riri ke basecamp divisi tata tertib dan tanpa sengaja mendengar obrolan Riri dengan Fajar.
“Eh sorry, aku ga sengaja mendengar obrolan kalian. Aku jadi penasaran sebenarnya hubungan kalian tuh apa sih?”
“Kamu ga denger barusan kita ngomong apa? Sahabat selamanya!.” jelas Riri kepada Sela.
“Iya aku denger. Tapi kok aku ngerasa kalian tuh sebenarnya lebih dari teman. Ngomong sahabat selamanya aja ga pake janjian langsung barengan gitu.”
“Kita punya telepati Sel. Hanya dengan saling liat kita bisa tau isi hati masing-masing. Hahaha” goda Fajar ke Sela.
“Tuh kan udah punya telepati segala. Kenapa ga pacaran aja sih? Biar aku ada temannya. Hahaha”
“Ga usah maksa aku sama Fajar ya Sel. Udah sana pergi ke pacar kamu.” Usir Riri ke Sela.
“Ga mau ah, lagi acara gini ga boleh pacaran tau, ga profesional namanya. Eh iya, kalian kebagian jaga di mana?”
“Tau profesioanl juga kamu Sel. Hahaha. Kita kebagian mantau jalur pos 2 ke pos 3. Kalau kamu di mana Sel?” Fajar menjawab.
“Aku kebagian di pos terakhir, kan aku divisi konsumsi.”
Sela ini mempunyai pacar namanya Ginan. Masih jurusan teknik elektro, hanya berbeda angkatan, Ginan sekarang berada di tingkat 3. Sebenarnya Riri berharap ditempatkan di divisi konsumsi bersama Sela, tapi Iqoy lebih memilih mereka dipisahkan entah apa alasannya.
***
Waktu makan malam dan shalat
isya untuk panitia sudah berakhir, saatnya kumpul kembali untuk briefing acara hyking. Basecamp panitia
berada cukup jauh sekitar 25 meter dari basecamp peserta. Briefing kali
ini dilakukan tanpa peserta, karena kami akan membahas pembagian tugas dan
teknis pelaksanaan hyking. Iqoy mengambil alih acara briefing menyebutkan
nama-nama panitia yang akan mengisi pos, menjaga basecamp, memantau area hyking,
membacakan peraturan kepada peserta dan yang mengisi pos bayangan sepanjang
jalur hyking. Setelah selelai menyebutkan nama-nama yang akan bertugas, seluruh
panitia membubarkan diri dan segera pergi ke tempat tugas masing-masing.
“Bye, hati-hati selama mantau area hyking. Jar, jagain Riri ya, jangan samapi dia nyasar ke hutan” Sela memberi salam perpisahan sebelum menuju pos tugas mereka masing-masing.
“Siap Sel, aku jaga dengan sepenuh hati. Hihi, selamat menunggu lama di pos 5. Hahaha. Bye”
“Ayo Jar, nanti keburu anak-anak peserta jalan” ajakku ke Jar.
“Bentar Ri, aku ambil perbekalan dulu biar ga haus sama lapar selama jaga.”
“Eh iya bener juga kata kamu. Aku dibekelin wafer tadi sama ibu, biar ga kelaparan kata ibu. Ibu memang pengertian sama anaknya yang satu ini. Hehe”
“Aku juga bawa biskuit tadi ngambil di toko ayah.”
“Sip deh, nanti kita bisa
tukaran makanan. Hahaha”
Mereka bergegas menuju tempat tugas hyking malam ini dengan perbekalan makanan agar tidak kelaparan ditengah hutan. Hahaha. Maafkan Riri dan Fajar ya, mereka memang doyan ngemil, walaupun doyan ngemil tapi badan mereka kurus, tidak bisa gendut. Jadi saat-saat dingin seperti ini mereka harus punya perbekalan yang cukup.
Perjalanan dari basecamp panitia menuju pos 2 tidak terlalu memakan waktu, hanya membutuhkan 10 menit. Berhubung hyking kali ini dilakukan malam hari, maka divisi lapangan yang bertugas membuat jalur hyking memperpendek jalur dan jalur yang dilewati tidak curam, hanya melewati jalan yang biasa dilewati oleh para petani. Walaupun tidak terlalu curam tapi jalan yang dilalui sangat becek dan berlumpur, mau tidak mau sepatu putih Riri penuh dengan lumpur.
Sesampainya di pos 2, Riri dan Fajar istirahat sebentar, sedangkan yang berjaga di pos 3, pos 4 dan divisi tata tertib yang memantau antara jalur pos 3 dan pos 4 melanjutkan perjalanan. Kebetulan yang berjaga di pos 2 teman dekat Riri dan Fajar, Giri namanya. Riri, Fajar dan Giri sangat dekat karena mereka sekelas. Giri orang yang kalem dan sangat dewasa dibandingkan dengan Riri dan Fajar.
Sesaat Riri dan Fajar akan melanjutkan perjalanan memantau area hyking, gerimis turun.
“Yah hujan” keluh Riri.
“Kalau hujan turun bukan ngeluh tapi berdoa, Allahumma shoyyiban nafii’an” Giri menyeramahiku. Giri memang jagonya kalau hal beginian. Hahaha.
“Oh iya. Hehe. Allahumma shoyyiban nafii’an” aku mengulangi doa yang Giri baca.
"Aroma petrikor yang menenangkan, gemercik air berirama merdu biasanya beriringan dengan kejujuran yang akan meluap ke permukaan dengan sendirinya.” Giri mulai bermain dengan kata-kata puitis.
“Wait, wait kalau udah puitis begini nih biasanya ada yang mau dia tanyakan.” Riri mulai berhati-hati dengan tingkah Giri yang susah memasuki waktu Indonesia bagian kepo.
“Sekarang aku mau tanya sama kalian berdua,”
“Nah kan bener dugaanku, waktu Indonesia bagian kepo di mulai”
“Kamu mau tanya apa Gir?” tanya Fajar
“Kalian berdua ga beneran pacaran kan?” Giri mulai mengintrogasi.
“Enggak lah! Ga mungkin kita pacaran Gir” sahut Riri sewot.
“Aku cuma mau ngingetin kalian. Awal perkuliahan dimulai, kelas kita punya perjanjian. Tidak boleh ada yang pacaran, karena bisa berimbas ke semuanya kalau suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan”
“Iya Gir, aku inget. Lagian kamu kok kayak yang lain sih! Ga percaya sama aku dan Fajar” Riri menjawab ketus.
“Bukan aku ga percaya sama kalian. Tapi yang namanya jatuh cinta bisa kapan saja dan di mana saja. Walaupun katanya kalian hanya sahabatan, tidak menutup kemungkinan kalau kalian saling jatuh cinta. Kalian sama-sama jomblo terus kalian udah kayak prangko dan amplop, kemana-mana nempel terus. Bahkan tiap ada tugas kelompok kalian selalu satu kelompok, tidak terpisahkan pokoknya”
“Jar, kamu kok diem aja sih.” ketus Riri kepada Fajar yang sedari tadi hanya diam melihat Riri dan Giri mengobrol
“Kamu nyerocos terus, gimana aku mau ngomong” Fajar menyentilkan jari ke jidat Riri.
“Aduuuhh, sakit tauuuu. Iya,
iya aku ga akan nyerocos lagi” ucap Riri sambil mengusap jidat.
Mata kamu ga bisa bohong Jar. Tatapan mata kamu ke Riri bukan tatapan seorang
sahabat, tapi lebih dari itu. gumam Giri dalam hati.
“Kamu cuma mau nanya itu doang Gir?” tanya Fajar ke Giri.
“Iya aku cuma mau ngomong itu aja.”
“Aku akan selalu ingat
perjanjian kelas kita Gir, tenang aja” jelas Fajar.
Riri terlihat sedang melamun.
“Awas kesambet setan ngelamun di tengah hutan gini” Fajar menyentilkan jarinya ke jidat Riri lagi.
“Aduuuhh, Fajar! Kamu kok seneng banget sih nyentil jidat aku? Sakit tau!” Riri mengerucutkan bibir.
“Abis kamu malah ngelamun, entar kalau ke sambet setan kan aku sama Giri yang repot. Hahaha”
“Sompral ih! Kamu sendiri tadi yang nyuruh aku diem”
Aku masih belum bisa membaca perasaan kamu ke Fajar, Ri. Kamu terlalu pintar menyembunyikan perasaan kamu. gumam Giri dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar