Senin, 02 November 2015

Pelangi, Selepas Hujan Reda

Hari ini hari Jumat tanggal 28 bulan Maret tahun 2014. Satu hari setelah Rio putus dengan Elsa. Rio merupakan salah satu mahasiswa di Universitas swasta ternama di kota Bandung. Jurusan Teknik Listrik. Semester 4. Rio aktif di organisasi. Rio salah satu kader pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa. Rio juga aktif di Himpunan Mahasiswa Listrik. Selain aktif di organisasi, Rio memiliki kemampuan di atas rata-rata. Rio salah satu mahasiswa yang mempunyai IPK tertinggi se-Jurusan. Tidak heran jika Rio mendapatkan beasiswa dari pihak kampus.

Himpunan Mahasiswa Listrik sedang mengadakan kegiatan rutin Malam Keakraban (Makrab). Semua mahasiswa jurusan listrik diwajibkan mengikuti acara Malam Keakraban. Tetapi, mahasiswa semester 6 dan mahasiswa semester 4 selaku pengurus Himpunan Mahasiswa Listrik lah yang menjadi panitia pelaksana. Rio ditempatkan di divisi Acara. Mulai dari rundown acara, kegiatan acara hingga materi acara diatur oleh Rio. Tetapi, Rio tidak sendirian di divisi Acara. Ada Afif, Dwikeu dan juga Syella. Dwikeu dan Syella adalah mahasiswa semester 6. Sedangkan Rio dan Afif adalah mahasiswa semester 4. Sudah jadi kebiasaan Himpunan jika ada acara, seluruh panitia di wajibkan menginap di kampus. Tepatnya di sekretariat himpunan.
***

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Masih terdengar suara orang mengobrol. Syella yang terbangun saat itu dan segera mencari sumber suara orang mengobrol. Syella keluar dari sekretariat himpunan. Di ujung lorong terlihat Rio dan Afif masih mengobrol.
"Kalian kenapa belum tidur?" tanya Syella.
"Ini teh nemenin yang lagi galau" jawab Afif.
"Oia? siapa yang galau? Rio yang galau?" ejek Syella.
"Engga teh, si Afif mah suka mengarang cerita aja" elak Rio.
"Rio baru putus teh, makanya galau" jelas Afif
"Teh, enak ga jadi jomblo?" tanya Rio.
"Kalau kata aku enak, bebas, ga ada yang ngekang".
"Maksudnya ga ada yang ngekang?" Rio bingung.
"Gini loh maksudnya, kebanyakan yang namanya pacaran pastilah ada yang pacarnya protective atau possesive, ngelarang ini itu yang terkadang bikin kita sedikit kesal. Kalau jomblo kan bebas mau ngapa-ngapain juga" jelas Syella. "Udah ah dari pada kalian ngegalau mending tidur, besok pasti ga akan tidur " lanjut Syella.
Syella segera masuk ke ruang sekretariat dan melanjutkan tidur. Rio dan Afif kembali melanjutkan obrolan mereka.

Jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Syella bangun dan segera mandi. Afif dan Rio masih terlihat mengobrol.
"Haaarr, ai kalian ga tidur?" tanya Syella dengan logat sunda yang kental.
"Ga kerasa ngantuk teh" saut Afif.
"Teteh mau mandi?" tanya Rio.
"Iya, mumpung yang lain masih pada tidur biar ga rebutan" Syella meninggalkan Afif dan Rio.
Dwikeu terkejut melihat Syella menghilang di sebelahnya. Dwikeu setengah berlari keluar sekretariat. Afif dan Rio terkejut melihat Dwikeu setengah berlari. Afif bertanya "teteh kenapa lari-lari?".
"Kalian lihat Syella ga? kok dia ga ada di dalam?" tanya Dwikeu.
"Oohh teh Syella, kirain kenapa!" jawab Afif lega. "Teh Syella lagi mandi, biar ga rebutan nanti katanya" lanjut Afif
"Ya udah deh aku mau mandi juga" Dwikeu segera mengambil peralatan mandi.
Acara dimulai pukul 05.00 pagi. Judulnya memang Malam Keakraban, tetapi sesuai tradisi, kegiatan ini di awali dengan hyking. Seminggu sebelum acara, koordinator divisi lapangan beserta anggotanya telah membuka jalur hyking. 
***


Sesampainya di lokasi acara. Seluruh mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Sepanjang jalur hyking divisi acara menyelipkan beberapa games agar perjalanan hyking terasa tidak membosankan. Games yang bertemakan kekeluargaan, kebersamaan, kerjasama dan komunikasi. Divisi acara di bagi menjadi dua. Dwikeu bersama Afif dan Syella bersama Rio. Dwikeu dan Afif bertugas di pos terakhir tempat berkumpul setelah hyking. Sementara Rio dan Syella bertugas di pos awal tempat berkumpul sebelum hyking. Semua kelompok telah melakukan perjalanan Hyking, yang tersisa hanya Rio dan Syella.
"Teteh, sekarang kita ngapain?" tanya Rio.
"Ga tau harus ngapain" Syella sibuk dengan gadgetnya.
"Kalau kita ikut hyking aja gimana teh?" ajak Rio.
"Haaahhh? ikut hyking? engga ah cape" Syella masih asik dengan gadgetnya.
"Ayooo doong, masa purna Paskibra cape cuma hyking doang" ejek Rio.
"Ga suka deh kalau udah bawa-bawa Paskibra" jawab Syella kesal.
"Makanya ayookk ikut hyking aja" Rio menarik tangan Syella.
"Ya udah, ayook" Syella terpaksa karena tangan nya di tarik-tarik oleh Rio

Syella memasang muka cemberut. Rio berusaha menghibur Syella. Usaha Rio tidak sia-sia. Akhirnya Syella mulai menikmati hyking. Perjalanan hyking terasa lebih menyenangkan setelah Syella mengejek-ejek Rio yang sedang galau.
"Ada yang galau nih tadi malam" Syella mengejek Rio.
"Apaaassiihh, jangan dibahas doong, kan lagi hyking sekarang" Rio cemberut.
"Cieeee cemberut cieee" Syella berlari setelah mengejek Rio. Rio mengejar Syella "tadi juga teteh manyun pas Rio ngajak hyking wuuuuu".
Hari itu dunia terasa milik mereka berdua. Lari-lari di tengah perkebunan Teh. Saling meledek sampai tertawa terbahak-bahak. Rio melupakan kegalaluannya pasca putus dengan Elsa. Sudah lama Rio tidak merasakan hal seperti ini. Seperti ada setitik harapan baru di hidup Rio.

Setelah capek berlari-lari. Rio dan Syella menemukan jalan setapak. Tampak ada bekas roda mobil lewat. Sepertinya memang jalur mobil yang biasa mengangkut daun Teh saat panen. Mereka memutuskan untuk beristirahat. Duduk di tengah perkebunan Teh menghadap ke Gunung Burangrang. Rio melihat kearah Syella dan  berkata "Makasih ya teh udah bikin Rio senang hari ini".
Syella seperti pelangi di saat kegalauan Rio yang baru putus dengan Elsa.

Minggu, 25 Oktober 2015

Kita Tak Sama

Rio berteriak sekencang-kencangnya di ruangan karaoke berukuran medium. Beberapa minggu yang lalu, ia disuruh orang tuanya untuk putus dengan pacarnya. Sedikit kemungkinan ia bisa terus bersama dengan pacarnya karena perbedaan keyakinan. Tetapi ia tidak langsung mengatakan itu kepada pacarnya. Rio menunggu waktu yang tepat untuk mengobrolkan hal ini kepada pacarnya. Ia tak mau menyakiti hati pacarnya tetapi ia juga tak mau menyakiti hati orang tuanya.

Rio mencoba mengobrol kembali dengan orang tuanya.
"Ma, mama benar-benar yakin menyuruh Rio putus dengan Elsa?" tanya Rio cemas. Ia berharap mamanya telah berubah fikiran.
"Iya, mama sangat yakin" tangan wanita berusia 50 tahun itu menyentuh pundak Rio.
"Tapi ma, Rio sayang banget sama Elsa" mata coklat nan indah itu memandang ke arah sang mama dengan penuh harapan agar hubungan mereka direstui.
"Untuk saat ini mama meminta kamu putus dengan Elsa" wanita itu meninggalkan Rio yang sedang terduduk di ruang tamu bertembok warna biru langit.

Selama beberapa saat, Rio hanya terdiam duduk di sofa dan meneteskan air mata. Tak pernah terfikirkan olehnya kalau semuanya akan jadi seperti ini. Perbedaan keyakinan membuat hubungannya dengan Elsa harus berakhir karena tak mendapatkan restu dari sang mama. Rio segera mengambil handphone dan menelfon Elsa untuk mengajak ketemuan.Telfon tersambung.
"Hallo sa, kamu lagi apa? Bisa kita ketemu sekarang?" tanya Rio terburu-buru.
"Kalau mau nanya satu-satu dong" jawab Elsa manja.
"Eh iya maaf sa, hari ini keluar yuk, aku kangen".
"Tumben bilang kangen, biasanya juga gengsi bilang kangen duluan" ejek Elsa.
"Pokoknya aku jemput kamu sekarang".
"Oke abang"

Mobil honda civic putih milik Rio segera melaju ke rumah Elsa daerah Sukajadi. Jalanan terlihat begitu padat sehingga Rio terpaksa memperlambat laju mobilnya. Rio melirik jam tangan berwarna silver di tangan sebelah kirinya. Jam menunjukkan pukul 18.44, "aahhh sial... pake acara padat merayap segala nih jalan" lirih Rio kesal. Perjalanan ke rumah Elsa bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Cilember, berhubung jalanan padat merayap seperti ini bisa 45-60 menit.

Setelah sampai, Rio segera memarkirkan mobilnya di depan rumah Elsa. Rio membuka pagar bewarna hitam dengan model minimalis bertutup fiber berwarna putih. Elsa sudah menunggu di depan pintu rumah dengan ayahnya. Sebagai cowo yang baik, Rio meminta izin kepada ayah Elsa.
"Malam om, Rio mau minta izin ngajak Elsa makan di luar" pamit Rio gugup.
"Mau makan dimana? om boleh ikut?".
"Haahh?" jawab Rio kaget.
"Om cuma bercanda haha ya sudah katanya mau pergi, tapi pulangnya jangan terlalu malam ya!" perintah ayah Elsa.
"Iya siap om" Rio salam ke ayah Elsa.
"Elsa berangkat dulu ya yah, dadah ayah" pamit Elsa.
"Hati-hati dijalan" jawab ayah Elsa dan kemudian masuk kedalam rumah.

Di dalam mobil Elsa menyalakan radio, menyetel frekuensi 106.3 saluran favoritnya. "Kamu mau makan apa sa?" tanya Rio.
"Ga tau, tapi aku lagi pengen ice cream" ujar Elsa.
"Ya sudah, kita ke kabut salju aja yu" Rio menegaskan tujuan mereka.
Rio sengaja memperlambat laju mobilnya agar bisa menikmati detik-detik terakhir kebersamaan mereka sebagai sepasang kekasih. Selama perjalanan Rio hanya terdiam. Ia bingung harus memulai dari mana pembicaraan ini. Sementara Elsa menikmati siaran radio frekuensi favoritnya.
***

Mereka tiba di cafe kabut salju, Rio memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk Elsa. Pramusaji melemparkan senyum kearah mereka dan menyapa mereka.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu" sapa pramusaji.
"Malam, ada bangku kosong untuk 2 orang?" tanya Rio. 
Cafe terlihat penuh. Banyak pengunjung yang sedang menikmati quality time bersama teman-temannya dan ada juga pengunjung yang menikmati quality time bersama kekasihnya.
"ada mas, silahkan" pramusaji menghantarkan mereka ke salah satu meja kosong. Meja nomor 5. "mau pesan apa mas?" tanya pramusaji.
"Menu recommended disini apa?" tanya Elsa.
"Affogato dust dessert dan mathca soft dessert mba".
"Kamu mau pesan apa sa?" Rio menanyakan pesanan Elsa.
"Mathca soft dessert aja, kalau kamu bang?" Elsa balik menanya kepada Rio.
"Ya udah, mathca soft dessert nya 2 ya mas" Rio menyebutkan pesanan kepada pramusaji.
"Ada pesanan yang lain lagi?" pramusaji kembali menanya.
"Tidak mas, itu aja" tegas Rio. Pramusaji segera menyiapkan pesanan mereka.

Tidak sampai 10 menit. Matcha soft dessert pesanan mereka datang. Ice cream greentea dipadukan dengan arumanis menghiasi meja nomor 5. Elsa memulai pembicaraan. ia menanyakan apa alasan Rio mengajak ketemuan mendadak seperti ini dan tumben-tumbennya Rio mengucapkan kata kangen. Karena selama 10 bulan pacaran, Rio jarang sekali mengucapkan kata kangen bahkan bisa dibilang tidak pernah mengucapkan kata kangen duluan. Ini bukan Rio yang Elsa kenal selama hampir 1 tahun ini. Rio yang Elsa kenal itu penuh dengan rasa gengsi. Rio tidak pernah memanggil Elsa dengan sebutan sayang dan tidak pernah memberikan Elsa bunga layaknya pasangan lain. Karena Rio bukanlah tipe cowo romantis.

Akhirnya Rio menjelaskan maksudnya mengajak Elsa ketemuan.
"mama aku ga setuju aku pacaran sama kamu" ujar Rio
"karena aku dan kamu beda keyakinan?" tebak Elsa
"iya, mama aku mau kita putus" Elsa terdiam setelah mendengar perkataan Rio barusan.
"aku sayang sama kamu sa, aku ga mau kita putus" Rio melanjutkan perkataannya. Mata Elsa mulai berkaca-kaca, sebisa mungkin Elsa menahan agar air mata tidak membasahi pipinya. "Aku udah coba ngobrol lagi sama mama, tapi mama tetap mau kita putus".
"Terus kita harus gimana bang?" air mata mulai tak terbendung hingga membasahi pipi Elsa.
"Kamu mau pindah keyakinan?" tanya Rio ragu. "Mungkin aku egois, tapi ini satu-satunya cara agar aku ga putus sama kamu sa" jelas Rio.
"sampai kapanpun aku ga mungkin pindah keyakinan bang" air mata semakin membasahi pipi Elsa.
"Kalau begitu terpaksa kita harus putus, walaupun sebenarnya aku ga mau putus sama kamu. Mungkin ini yang terbaik untuk kita" raut sedih bercampur kecewa terpancar jelas dari muka Rio. 

Air mata tidak berhenti mengalir di pipi tembem Elsa. Rio kembali menegaskan status hubungan mereka. "maaf sa, kita benar-benar putus". Rio mengajak Elsa pulang. Sepanjang perjalanan pulang Elsa tidak berhenti menangis. Jam menunjukkan pukul 22.10, mereka tiba di rumah Elsa. Terlihat jelas dari mobil, lampu ruang tamu sudah dimatikan. Mungkin orang tua Elsa sudah tidur. Mereka belum keluar dari mobil. Rio memegang tangan Elsa. Elsa mengusap air matanya lalu memandang Rio dengan tatapan kosong. 

"Jadi kita beneran putus?" Elsa bertanya kepada Rio. "Aku terima apapun keputusan kamu, karena aku tau ------". Belum sempat Elsa menyelesaikan ucapannya. Rio menutupi bibir Elsa dengan bibirnya. Elsa berusaha mendorong tubuh Rio. Tetapi lelaki itu tak mau melepaskannya. Elsa tak dapat bergerak saat Rio memegang bagian belakang kepalanya. "Sekarang kamu masuk ya" Rio mengantarkan Elsa ke depan pintu rumah. "Selamat tinggal Rio" Elsa menutup pintu rumah.

Hari itu hari terakhir mereka bertemu. Hari itu pula mereka saling melepaskan satu sama lain. Bahkan Rio menghapus nomor handphone Elsa, menghapus kontak BBM Elsa, mem-block seluruh akun media sosial Elsa. Sampai detik ini tidak ada komunikasi diantara mereka dalam bentuk apapun.