Selasa, 13 September 2022

Enam: Api Unggun

“menghayati banget sih Ri sama lagu ini”.

“lagu-lagunya Adele tuh emang paling enak dihayati, dinyayiin dari relung hati terdalam, biar kerasa feel nya”

“iya sih, lagunya Adele itu emang paling enak buat galau”

“betuuuuul, lanjut lovesong siihh”

“siap tuan puteri, this is my favorite song right now!

Whenever I am alone with you, you make feel like I am home again” seperti biasa suara sumbang kulantunkan dengan sangat kencang.

Fajar PoV

“Ri, jangan keras-keras nyanyinya” aku mengingatkan Riri agar tidak bernyanyi terlalu keras mengingat kita sedang ada di hutan.

“Eh iya iya, maaf. Suka ga kontrol kalau udah nyanyi lagunya Adele tuh”

“Iya, tapi ingat kita lagi di hutan loh. Kalau tiba-tiba ada yang ikutan nyanyi gimana?”

“Jar, please jangan bikin parno Jar. Kamu tahu kan kalau aku orangnya penakut dan suka ovethinking” Riri langsung memegang erat tanganku.

Hahaha. Riri tuh emang lucu, dibalik mukanya yang jutek dan sifatnya yang childish tapi dia sebenarnya anak yang penakut. Aku jadi ingat beberapa waktu lalu kita ada rapat di ruang himpunan sampai jam 9 malam. Kondisi lampu-lampu koridor kampus sudah dimatikan sebagian sama satpam. Riri yang saat itu harus ke toilet sampai tidak jadi karena melihat kondisi koridor yang sudah gelap. Waktu ditanya kenapa balik lagi dia menjawab “Koridor udah gelap, aku takut gelap kalau diteruskan nanti aku pingsan gimana? Kan gak lucu”. Riri se overthingking itu, padahal jarak dari ruang himpunan ke toilet hanya sekitar 15 meter.


Riri memiliki sifat keras kepala dan manja. Tapi di balik sifat keras kepala dan manjanya dia adalah sosok yang rapuh. Riri bukan orang yang suka menceritakan masalah pribadinya terutama mengenai keluarga kepada siapapun, kecuali kepadaku. Meski pun aku tahu, tidak semuanya dia ceritakan. Pernah aku tanyakan kepadanya, kenapa dia mau menceritakan lukanya itu kepadaku. Jawabannya simple, karena aku tidak pernah men-judge. Aku rasa dia hanya butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya, lain kata Riri butuh sosok seorang ibu tempat mengadukan keluh kesah. Sepengetahuanku ibu nya memang sudah meninggal  sejak Riri kelas 6 SD dan dia tinggal bersama kakak ayahnya di Bandung.

Diam-diam aku suka memperhatikan gerak gerik Riri. Yang mulanya hanya memperhatikan tingkah lakunya, berlanjut suka screenshot pesan-pesannya, sampai diam-diam mengambil foto-fotonya. Terkesan sebagai seorang penguntit sih, tapi aku senang kalau mengingat-ngingat tentang Riri. Suka membaca ulang pesan-pesannya dari handphone, melihat berbagai ekspresi mukanya yang lucu. Tapi, Riri tidak pernah tahu hal itu, bisa-bisa aku dilaporkan ke polisi karena jadi penguntit secara tidak langsung. Semua ku jadikan koleksi pribadi di handphone ku.

Aku tidak tahu, perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan kepada Riri. Yang jelas aku tidak mau melihatnya sedih, baik itu karena keluarganya ataupun kisah cintanya. Riri anak yang cukup ekspresif, dia dengan mudah memperlihatkan emosional yang dia punya. Pernah suatu hari dia lagi kesal dengan salah satu teman sekelas kami, dia bisa seharian cemberut dan tidak ada yang ditanya satupun sampai mata kuliah terakhir. Teman-teman yang membuat kesal akhirnya mengejar-ngejar Riri agar dimaafkan karena sudah membuat kesal. Jangan sekali-kali membuat Riri kesal kalau tidak mau didiamkan seharian olehnya.

---

Author Pov

Kelompok terakhir telah sampai di pos api unggun, saatnya acara renungan di mulai. Memang sangat klasik, setelah acara hyking malam diakhiri dengan api unggun dan renungan. Acara renungan dipimpin oleh divisi rohani, kang Wiguna. Semua peserta, panitia dan tamu undangan sangat khidmat mengikuti acara ini. Ada yang menangis, ada tertidur karena mengantuk, ada yang sibuk mengelap ingusnya yang keluar bagaikan keran bocor. Hahaha. Siapa lagi kalau bukan Riri. Alergi dingin yang dideritanya membuat Riri tidak tahan dengan udara dingin.

“Ri, mending kamu ke api unggun aja, biar ga terlalu dingin” bisik Fajar.

“Ga pa-pa Jar, disini aja. Masih bisa atasi kok meler nya”

“Tapi ingus kamu dari tadi ga berhenti meler Ri”

“Resiko punya alergi dingin ya gini Jar, mau gimana lagi coba”

“Mana tangan kamu?” Fajar meminta tangan Riri. Segera Fajar menggenggam tangan Riri dan dimasukan ke saku jaketnya.

“Jar, kalau dilihat yang lain ga enak, nanti tuh bibir bapak-bapak tukang gosip makin nyerocos” sebisa mungkin Riri menarik tangannya agar keluar dari saku jaket Fajar.

“Ga pa-pa Ri, biar ga terlalu dingin banget. Aku kasian sama kamu.”

Ya, posisi mereka memang agak sedikit jauh dari api unggun sehingga api unggun tidak bisa menghangatkan tubuh mereka. Tidak jauh dari tempat Riri dan Fajar duduk. Giri dari tadi memperhatikan tingkah laku mereka. Lebih tepatnya memperhatikan tingkah laku Riri, agar dia bisa mengambil kesimpulan perasaan Riri terhadap Fajar. Riri terlalu pandai berkamuflase untuk menyembunyikan perasaannya. Perhatian Riri kepada Fajar dan teman-teman yang lain sama.

---

Rangkaian acara berakhir di api unggun. Waktu menunjukkan pukul 04.30 saatnya menunaikan ibadah sholat subuh. Setelah sholat subuh dilanjutkan acara bebas sampai pukul 07.00, ada yang memilih mengobrol dekat api unggun sambil memainkan gitar, ada yang memutuskan untuk mengistirahatkan mata sejenak, ada yang sibuk eksplor tempat camping yang indah ini dengan danau kecil di dekat tenda berdiri. Kecuali divisi konsumsi yang sibuk di dapur umum untuk membuat sarapan pagi. Fajar memutuskan untuk istirahat di tenda panitia dan Riri memutuskan untuk eksplor tempat ini.

“Ri, aku mau tidur dulu ya ngantuk banget soalnya”

“Iya Jar, tidur gih. Bahaya kalau ngantuk, soalnya kan kamu bawa motor nanti pulangnya, kalau aku sih gampang tinggal molor di motor nanti. Hahaha”

“Ye kutu kupret, pulangnya naik angkot sana. Ogah bonceng kamu terus nganterin ke Cimahi dulu”

“Oh jadi gitu, oke Jar nanti aku pulangnya naik angkot” pundung[10] mode on.

“Yaahh dia pundung. Ri, jangan pundung dong”

“Udah sana tidur, aku mau pergi dulu, bhaaayyy” Riri berlalu dan coba mengeksplor tempat indah ini. Sebenarnya Riri takut karena langit masih gelap. Jadi sebelum memutuskan untuk mengeksplor tempat ini, Riri ikut gabung bersama tingkat 4 yang sedang main gitar di dekat api unggun. Lumayan untuk membuat diri sedikit hangat dan memberhentikan cairan yang keluar dari hidung. Di api unggun ada Ansa dan tingkat 4 lainnya Ada juga beberapa tingkat 1 yang ingin ikut menghangatkan badan.

“Pacar mana Ri?” Ansa bertanya saat Riri ikut duduk di sebelahnya.

“Pacar siapa? Pacar Kang Ansa? Kan ada di Rancaekek di rumahnya”

“Pacar kamu lah Fajar. Kenapa tiba-tiba ke Gendis”

“Kan akang nanya pacar, ya pacar akang kan Gendis, ada di Rancaekek. Aku kan ga punya pacar”

“Masa sih, ga yakin akang kamu ga ada hubungan special sama Fajar”

“Aku ga maksa akang untuk percaya sama aku kok, musyrik kang percaya sama aku mah. Udah ah dari pada bahas Fajar mending kita nyanyi, kasian gitarnya nanti dia nangis gara-gara dicuekin”

“Teh, emangnya gitar bisa nangis ya?” Tanya salah satu mahasiswa tingkat 1.

“Hahahaha. Manusia paling aneh di elektro jangan didengar omongannya”

“Ga pa-pa aku aneh yang penting aku cantik kata ayah aku” Ansa menjitak kepala Riri.

“Aduuhh sakit. Jahat iiihh dia mah!”, “Yaudah yuk nyanyi lagunya Project Pop – Ingatlah hari ini. Kang Ansa tau chord nya kan?” Tanya Riri

“Bisa Ri. Tu, wa, ga”

“Kawan dengarlah yang akan aku katakan, tentang dirimu setelah selama ini…”

Semua yang ada di dekat api unggun ikut bernyanyi. Lagu ini sengaja dipilih Riri, karena belum tentu tahun-tahun berikutnya tingkat 4 bisa ikut lagi acara malam keakraban karena kemungkinan sudah lulus dan akan sibuk dengan dunia masing-masing.

“Kamu sangat berarti istimewa di hati selamanya rasa ini, jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing ingatlah hari ini” semua serempak menyanyikan lagu ini sambil merangkul satu sama lain. Panitia dan peserta lain yang tidak ada kerjaan ikut berkumpul di api unggun dan nyanyi bersama.

[10] Merajuk


Senin, 01 Maret 2021

Lima: Someone Like You

30 menit berlalu, gerimis sudah mulai berhenti. Riri dan Fajar harus segera melaksanakan tugas. Mereka pamitan kepada Giri dan beberapa teman yang lainnya untuk segera memantau jalur hyking.’

“Semuanya, aku sama Fajar bertugas dulu ya. Terimakasih tumpangan berteduhnya.”

“Bye Ri, take care. Sampai bertemu di pos api unggun” sahut Giri

“Assalamu’alaikum” pamit Fajar.

“Wa’alaikumussalam” sahut semuanya.

Setiap divisi lapangan dan tata tertib yang memantau jalur hyking dibekali sebuah handy talky. Di hutan seperti ini akan sangat sulit berkomunikasi via ponsel karena sangat jauh dari menara pemancar ponsel. Handy Talky menjadi alat komunikasi mereka selama acara berlangsung sebab handy talky bekerja menggunakan gelombang radio. Namun tidak seperti radio pada umumnya yang hanya dapat mendengarkan suara, handy takly merupakan radio dua arah dimana kita dapat mendengarkan dan berbicara. Pada saat berbicara gelombang radio yang dipancarkan keluar pada channel yang telah ditentukan biasanya pada VHF (Very High Frequency) berkisar 100-300Mhz dan HF (High Frequency) berkisar 2-24Mhz. Kelemahan pada handy talky adalah hanya satu orang yang dapat berbicara dan yang lainnya mendengerkan. Perangkat seperti ini disebut dengan half-duplex yang berarti channel tunggal digunakan untuk komunikasi satu arah, berbeda dengan ponsel yang merupakan full-duplex dimana kita dapat berbicara dan mendengarkan secara bersamaan. Dalam komunikasi menggunakan handy talky biasanya menggunakan kode sandi, kalau di dunia kepolisian penggunaan kode sandi ini bertujuan agar tidak diketahui oleh orang awam.

Sregg…sreeggg..sreeggg *bunyi HT*

“Tatib 23, disini korlap 12, masuk”

“Korlap 12, disini tatib 23, ganti” Riri menjawab panggilan HT

“Untuk jalur 23 sudah aman? Ganti”

“Aman, ganti”

“Sip, on the way, ganti”

“Siap, ganti”

---

Malam semakin larut, kegiatan hyking malam pun masih berlanjut. Dua insan yang melakukan pemantauan jalur hyking dari pos 2 ke pos 3 berjalan gontai dan lesu ke arah sebuah saung milik salah seorang petani di jalur hyking tesebut.

“Jar kita istirahat dulu yaa” ucap Riri yang terduduk saung sambil memijat-mijat betis dan pahanya yang terasa pegal.

“Oke Ri, lagian kita belum istirahat juga kan dari tadi” Fajar merebahkan badannya tepat disamping Riri.

“Jar, aku mau makan wafer, kamu mau?” kata Riri sambil menyodorkan kotak wafer.

“Iya nanti Ri, aku capek mau rebahan dulu sebentar”

“oh oke”

Hening… hening … hening..

 

Riri PoV

Aku rasa aku harus menceritakannya sama Fajar, mungkin dia punya insight dari sisi pandangan seorang laki-laki. Jujur, aku bukan orang yang bisa mengungkapkan isi hati baik melalui lisan ataupun tulisan, semua masalah yang aku hadapi aku simpan rapi-rapi, terkadang kalau sudah sangat kesal dan ga kuat cuma bisa bikin status di sosial media yang privat, itupun hanya berupa emoticon yang mewakili apa yang aku rasakan. Sambil mengumpulkan nyali untuk bercerita ke Fajar aku menghabiskan wafer yang aku bawa. Laper juga setelah memantau kondisi jalur hyking setelah beberapa jam. Hehehe.

Beberapa saat kemudian….

“Jar, aku mau nyerita tapi kamu jangan dulu motong ucapan aku ya sebelum aku minta kamu untuk berkomentar”

Kenapa ya Jar, laki-laki tuh kadang suka ga peka. Laki-laki tuh memang ga pernah nyadar atau sengaja untuk ga sadar saat ada perempuan yang mempunyai perasaan lebih dari seorang teman. Sebenarnya siapa yang bodoh. Laki-lakinya atau perempuannya. Jadi Jar, sahabatku itu suka sama temen kampusnya, tapi laki-lakinya itu ga pernah sadar. Yang namanya perempuan mah ga mungkin ngungkapin duluan kan ya, cuma bisa nunggu. Menurut kamu gimana Jar? Yang salah temanku yang mendam perasaannya atau memang sifat alamiyah laki-laki yang ga peka sama sekitar”

Hening…

“Jar” ….

Hening…

Aku melihat ke samping, terdengar suara dengkuran halus pertanda seseorang sudah masuk ke alam mimpi. Ya ampun Fajar, aku kira dari tadi dia mendengarkan, ternyata dia pergi tamasya ke pulau kapuk. Tapi kalau dilihat-lihat Fajar lucu juga kalau lagi tidur, bola matanya terbuka seperti orang yang tidak tidur tetapi terdengar dengkuran.

“Jar, bangun Jar. Iiihhhh malah molor” kataku sambil menggoyangkan badan Fajar.

“Hoaaaammm, ada apa Ri? Sorry niat rebahan doang malah ketiduran, abis capek banget”

“Aku tadi nyerita kamu dengerin ga?”

“Cuma denger prolognya aja Ri, yang mau nyerita tapi jangan motong sebelum beres, kelanjutannya ga denger. Hehehe”

“Astaghfirullah Fajar, aku ngomong sampe seret tenggorokan kamu malah enak-enakan molor”

“Hehe maaf Ri, emang tadi mau cerita tentang apa? Sini cerita sama Aa, Aa siap dengerin neng”

“Hueeekkk Aa. Gelii iiihh Hahaha”

“Kamu mau cerita apa sok, aku siap mendengarkan”

“Udah ah, nanti lagi aja. Sekarang pantau jalur lagi aja yuk”

“Ya elah Ri, aku udh siap dengerin kamunya ga jadi nyerita”

“Iya nanti bakalan cerita deh, janji. Sekarang kembali menjalankan tugas dulu. Cuusss”

“Oke tuan puteri. Eh iya Ri, biar ga bosen sambil dengerin lagu yaa”

“Boleh juga tuh Jar, lagu-lagunya Adele yang album 21 doong, kan kamu lengkap”

“Oke siap Ri, bentar yaa dicari dulu”

Aku dan Fajar adalah salahdua dari jutaan orang yang menyukai lagu-lagu Adele. Penyanyi berkebangsaan Inggris itu pernah memenangkan penghargaan bergengsi Grammy Award pada tahun 2009 dan tahun 2012. Tidak hanya penghargaan bergengsi Grammy Award saja yang didapatkan oleh Adele, kesuksesan album 21 yang dirilis tahun 2011 itu mampu menorehkan sejumlah rekor dunia dan tercatat di Guinness Book of World Records.

“Lagu Someone Like You Jar” request aku ke Fajar. 

Sabtu, 04 April 2020

Empat: Pintar Menyembunyikan

Sela menghampiri Riri ke basecamp divisi tata tertib dan tanpa sengaja mendengar obrolan Riri dengan Fajar.

“Eh sorry, aku ga sengaja mendengar obrolan kalian. Aku jadi penasaran sebenarnya hubungan kalian tuh apa sih?”

“Kamu ga denger barusan kita ngomong apa? Sahabat selamanya!.” jelas Riri kepada Sela.

“Iya aku denger. Tapi kok aku ngerasa kalian tuh sebenarnya lebih dari teman. Ngomong sahabat selamanya aja ga pake janjian langsung barengan gitu.”

“Kita punya telepati Sel. Hanya dengan saling liat kita bisa tau isi hati masing-masing. Hahaha” goda Fajar ke Sela.

“Tuh kan udah punya telepati segala. Kenapa ga pacaran aja sih? Biar aku ada temannya. Hahaha”

“Ga usah maksa aku sama Fajar ya Sel. Udah sana pergi ke pacar kamu.” Usir Riri ke Sela.

“Ga mau ah, lagi acara gini ga boleh pacaran tau, ga profesional namanya. Eh iya, kalian kebagian jaga di mana?”

“Tau profesioanl juga kamu Sel. Hahaha. Kita kebagian mantau jalur pos 2 ke pos 3. Kalau kamu di mana Sel?” Fajar menjawab.

Aku kebagian di pos terakhir, kan aku divisi konsumsi.”

Sela ini mempunyai pacar namanya Ginan. Masih jurusan teknik elektro, hanya berbeda angkatan, Ginan sekarang berada di tingkat 3. Sebenarnya Riri berharap ditempatkan di divisi konsumsi bersama Sela, tapi Iqoy lebih memilih mereka dipisahkan entah apa alasannya.

***

Waktu makan malam dan shalat isya untuk panitia sudah berakhir, saatnya kumpul kembali untuk briefing acara hykingBasecamp panitia berada cukup jauh sekitar 25 meter dari basecamp peserta. Briefing kali ini dilakukan tanpa peserta, karena kami akan membahas pembagian tugas dan teknis pelaksanaan hyking. Iqoy mengambil alih acara briefing menyebutkan nama-nama panitia yang akan mengisi pos, menjaga basecamp, memantau area hyking, membacakan peraturan kepada peserta dan yang mengisi pos bayangan sepanjang jalur hyking. Setelah selelai menyebutkan nama-nama yang akan bertugas, seluruh panitia membubarkan diri dan segera pergi ke tempat tugas masing-masing.

 

“Bye, hati-hati selama mantau area hyking. Jar, jagain Riri ya, jangan samapi dia nyasar ke hutan” Sela memberi salam perpisahan sebelum menuju pos tugas mereka masing-masing.

“Siap Sel, aku jaga dengan sepenuh hati. Hihi, selamat menunggu lama di pos 5. Hahaha. Bye”

“Ayo Jar, nanti keburu anak-anak peserta jalan” ajakku ke Jar.

“Bentar Ri, aku ambil perbekalan dulu biar ga haus sama lapar selama jaga.”

“Eh iya bener juga kata kamu. Aku dibekelin wafer tadi sama ibu, biar ga kelaparan kata ibu. Ibu memang pengertian sama anaknya yang satu ini. Hehe” 

“Aku juga bawa biskuit tadi ngambil di toko ayah.”

“Sip deh, nanti kita bisa tukaran makanan. Hahaha”

 

Mereka bergegas menuju tempat tugas hyking malam ini dengan perbekalan makanan agar tidak kelaparan ditengah hutan. Hahaha. Maafkan Riri dan Fajar ya, mereka memang doyan ngemil, walaupun doyan ngemil tapi badan mereka kurus, tidak bisa gendut. Jadi saat-saat dingin seperti ini mereka harus punya perbekalan yang cukup.

Perjalanan dari basecamp panitia menuju pos 2 tidak terlalu memakan waktu, hanya membutuhkan 10 menit. Berhubung hyking kali ini dilakukan malam hari, maka divisi lapangan yang bertugas membuat jalur hyking memperpendek jalur dan jalur yang dilewati tidak curam, hanya melewati jalan yang biasa dilewati oleh para petani. Walaupun tidak terlalu curam tapi jalan yang dilalui sangat becek dan berlumpur, mau tidak mau sepatu putih Riri penuh dengan lumpur.

Sesampainya di pos 2, Riri dan Fajar istirahat sebentar, sedangkan yang berjaga di pos 3, pos 4 dan divisi tata tertib yang memantau antara jalur pos 3 dan pos 4 melanjutkan perjalanan. Kebetulan yang berjaga di pos 2 teman dekat Riri dan Fajar, Giri namanya. Riri, Fajar dan Giri sangat dekat karena mereka sekelas. Giri orang yang kalem dan sangat dewasa dibandingkan dengan Riri dan Fajar. 

Sesaat Riri dan Fajar akan melanjutkan perjalanan memantau area hyking, gerimis turun.

“Yah hujan” keluh Riri.

“Kalau hujan turun bukan ngeluh tapi berdoa, Allahumma shoyyiban nafii’an” Giri menyeramahiku. Giri memang jagonya kalau hal beginian. Hahaha.

“Oh iya. Hehe. Allahumma shoyyiban nafii’an” aku mengulangi doa yang Giri baca.

"Aroma petrikor yang menenangkan, gemercik air berirama merdu biasanya beriringan dengan kejujuran yang akan meluap ke permukaan dengan sendirinya.” Giri mulai bermain dengan kata-kata puitis.

Wait, wait kalau udah puitis begini nih biasanya ada yang mau dia tanyakan.” Riri mulai berhati-hati dengan tingkah Giri yang susah memasuki waktu Indonesia bagian kepo.

Sekarang aku mau tanya sama kalian berdua,”

“Nah kan bener dugaanku, waktu Indonesia bagian kepo di mulai”

“Kamu mau tanya apa Gir?” tanya Fajar

“Kalian berdua ga beneran pacaran kan?” Giri mulai mengintrogasi.

“Enggak lah! Ga mungkin kita pacaran Gir” sahut Riri sewot.

“Aku cuma mau ngingetin kalian. Awal perkuliahan dimulai, kelas kita punya perjanjian. Tidak boleh ada yang pacaran, karena bisa berimbas ke semuanya kalau suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan”

“Iya Gir, aku inget. Lagian kamu kok kayak yang lain sih! Ga percaya sama aku dan Fajar” Riri menjawab ketus.

“Bukan aku ga percaya sama kalian. Tapi yang namanya jatuh cinta bisa kapan saja dan di mana saja. Walaupun katanya kalian hanya sahabatan, tidak menutup kemungkinan kalau kalian saling jatuh cinta. Kalian sama-sama jomblo terus kalian udah kayak prangko dan amplop, kemana-mana nempel terus. Bahkan tiap ada tugas kelompok kalian selalu satu kelompok, tidak terpisahkan pokoknya”

“Jar, kamu kok diem aja sih.” ketus Riri kepada Fajar yang sedari tadi hanya diam melihat Riri dan Giri mengobrol

“Kamu nyerocos terus, gimana aku mau ngomong” Fajar menyentilkan jari ke jidat Riri.

“Aduuuhh, sakit tauuuu. Iya, iya aku ga akan nyerocos lagi” ucap Riri sambil mengusap jidat.


Mata kamu ga bisa bohong Jar. Tatapan mata kamu ke Riri bukan tatapan seorang sahabat, tapi lebih dari itu. 
gumam Giri dalam hati.

“Kamu cuma mau nanya itu doang Gir?” tanya Fajar ke Giri.

“Iya aku cuma mau ngomong itu aja.”

“Aku akan selalu ingat perjanjian kelas kita Gir, tenang aja” jelas Fajar.

Riri terlihat sedang melamun.

“Awas kesambet setan ngelamun di tengah hutan gini” Fajar menyentilkan jarinya ke jidat Riri lagi.

“Aduuuhh, Fajar! Kamu kok seneng banget sih nyentil jidat aku? Sakit tau!” Riri mengerucutkan bibir.

“Abis kamu malah ngelamun, entar kalau ke sambet setan kan aku sama Giri yang repot. Hahaha”

“Sompral ih! Kamu sendiri tadi yang nyuruh aku diem”

Aku masih belum bisa membaca perasaan kamu ke Fajar, Ri. Kamu terlalu pintar menyembunyikan perasaan kamu. gumam Giri dalam hati.

Minggu, 29 Maret 2020

Tiga: Berita Hoax

“Gak lagi deh aku pake sepatu converse kalau lagi acara beginian, licin paraaahh” ngeluhku kepada Fajar


“Banyak gaya sih amu, udah tau makrab di hutan, malah pake sepatu gituan”


“Eh track buat games nanti kayak gini gak? Kamu kan ikut survey minggu lalu?”


“Lebih parah, ada genangan lumpurnya malah”


“Ya Tuhan, sepatu aku putih loh, males banget. Aku tunggu basecamp aja klo gitu deh.”


“Woi, kamu tatib tugasnya mobile bukan diem kayak ratu. Lagian itu sih derita kamu pake sepatu buat ke mall”


“Iya iya aku salah pake sepatu ginian ke hutan, puas kamu!”


“Impas, kali ini aku yang menang. Hahaha.” Fajar ketawa puas melihat Riri kesusahan tracking menuruni bukit ke basecamp makrab.


“Tau ah! Bukannya bantuin malah ngetawain” sifat childish Riri mulai keluar.


“Sini pegang tangan aku”


“Males ah. Aku bisa sendiri kok”


“Yakin bisa sendiri?”


“Yakin!” seru Riri sambil menuruni bukit yang licin.

 

Tidak lama kemudian, “Aduuuhh” Riri terpeleset. Untung ada Fajar yang berjalan tepat di depan Riri. Jadi saat jatuh Riri masih bisa memegang tas Fajar.


“Tuh kan, sok banget sih tadi. Kepleset kan sekarang? Hahaha. Makanya sini pegangan sama aku” Fajar mencoba menolong Riri.

 

Ternyata Ansa dan yang lainnya memperhatikan Riri dan Fajar dari belakang.


“Eheeemm, ada cinta bersemi di Cibodas” ejek Ansa.


Naon sih kang[5] lirih Riri ke Ansa


Nungguan naon deui sih Jar, geura tembak meh jiga Riani jeung Zhafran 5cm, jadian di gunung[6] seru Ansa kepada Dwi.


Mbung ah kang, ripuh bobogohan jeung si Riri mah[7]  Fajar merespon pernyataan Ansa.


Ripuh tapi bogoh[8] Tigor menyaut dengan logat bataknya.


Gandeng lah[9] ucap Riri kesal.


Kalau Riri sudah menggunakan bahasa sunda itu tandanya Riri memang benar-benar kesal.

Perjalanan jadi sedikit lebih lama dari perkiraan waktu, karena track yang mereka lalui memang sangat licin jadi harus sangat hati-hati agar tidak terpeleset dan jatuh ke jurang. Saat tiba di basecamp makrab, acara sudah dimulai. Iqoy selaku ketua pelaksana sedang memberikan kata sambutan. Riri, Fajar dan Tigor segera bergabung dengan panitia lainnya, Ansa dan tingkat 4 lainnya menempati tempat yang telah disediakan untuk tamu undangan. Acara makrab ini adalah acara tahunan himpunan untuk menyambut anggota baru sekaligus pembagian jaket himpunan untuk anak-anak tingkat 1.


Setelah Iqoy memberikan sambutan, dilanjutkan dengan Zaky selaku ketua himpunan memberikan sambutan sekaligus membuka acara makrab ini. Semua panitia dan peserta sangat hikmad mengikuti acara pembukaan makrab ini. Suasana berubah seketika, saat tengah-tengah acara Ansa menyebarkan berita hoax bahwa Riri dan Fajar berpacaran. Gosip antara Riri dan Fajar menyebar dengan cepat saat acara masih berlangsung. Hey, jangan salah baby. Walaupun jurusan ini mayoritas dihuni oleh makhluk Tuhan yang disebut laki-laki, tapi kelakuan mereka melebihi ibu-ibu komplek yang suka bergosip di tukang sayur keliling. Bagaimana tidak, berita yang masih belum jelas kebenarannya sangat mudah menyebar dan semua orang memercayai itu. Bisa kalian bayangkan, jurusan yang seharusnya sangar dan elegan itu langsung seperti kumpulan ibu-ibu komplek yang sedang bergosip dengan tukang sayur. Hahaha. Tenang, semua ini hanya terjadi di kampusku tidak di kampus lain.

 

Acara pembukaan makrab berjalan dengan lancar, meski dibumbui oleh ibu-ibu komplek yang bergosip. Oops, maksudku teman-teman Riri yang bergosip. Hahaha. Berlanjut ke acara makan malam dan Shalat Isya, Sela teman seangkatan Riri menghampirinya.


“Kamu dari mana aja Ri baru sampe pas acara udah mulai?” tanya Sela.


“Aku udah sampe dari tadi jam 5, cuma diem di atas dulu nunggu kang Ansa sama yang lain” jelas Riri ke Sela.


“Kamu jadi berangkat sama Fajar?”


“Jadi Sel, lama banget aku nunggu. Jam 4 baru sampe kampus coba, nyebelin kan si Fajar. Ya udah aku bikin malu dia di lampu merah Simpang Dago”


“Emang kamu ngapain Ri?”


“Aku nyanyi lagu I heart you kenceng banget. Kamu tau kan kalau suara aku sumbang. Hahaha” ketawa Riri puas.


“Hahaha, dasar kamu. Eh tapi kalian berdua tuh kayak orang pacaran tau, kemana-mana berdua mulu, udah gitu berantem abis itu baikan. Gitu aja terus sampe lebaran monyet”


I don’t care what do peoples think about us. Aku sama Fajar ga ada hubungan apa-apa. Beribu kali aku jelasin ke orang-orang pun pada ga percaya.” Jawab Riri ketus.


“Awas aja kalau kamu bohong soal hubungan kamu sama Fajar ke aku.”


“Udah ah, aku mau kumpul sama anak-anak tatib dulu. Bye!” pamit Riri ke Sela.


“Okey, Bye

 

Sesampainya Riri di basecamp divisi tata tertib, Riri, Fajar dan anak-anak tata tertib lainnya melakukan rapat internal divisi. Seperti yang Riri katakan sebelumnya, kalau divisi tata tertib bertanggung jawab untuk menertibkan peserta dan panitia sekaligus menjaga ketertiban acara. Rapat internal kali ini membahas pembagian tugas masing-masing anggota, ada membacakan tata tertib hyking kepada peserta dan panita, ada yang memantau jalur hyking untuk memastikan semuanya aman dan ada yang menjaga barang-barang peserta dan panitia di basecamp. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Riri dan Fajar ditugaskan bersama, mereka bertugas memantau jalur hyking dari pos 2 ke pos 3. Saat rapat internal selesai, semua membubarkan diri tersisa Riri dan Fajar.


“jar, maafin aku ya atas gosip yang beredar. Aku takut kamu malah jadi ga nyaman karena gosip kita pacaran” lirih Riri.


“Kamu kayak ga tau kelakuan mereka aja Ri”


“Tapi kamu ga bakalan berubah kan Jar ke aku hanya karena gosip ini” Riri mulai berbicara serius.


“Ri, sampai kapanpun sikap aku ke kamu ga akan berubah. Pegang janji aku”


“Janji?” menyodorkan jari kelingkingnya ke Fajar.


“Janji!” Fajar menyilangkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Riri.


“Sahabat selamanya” Riri dan Fajar kompak menyebutkan itu sambil ketawa.



[5] Apa sih kang.
[6] Nunggu apa lagi sih
Jar. Cepetan tembak, biar kayak Riani sama Zhafran 5cm, jadian di gunung

[7] Ga mau ah kang, repot pacaran sama Riri
[8] Repot tapi suka kan
[9] Berisik kalian!


Sabtu, 28 Desember 2019

Dua: Calon Pacar?

Setiap tahun jurusan teknik elektro di kampus selalu mengadakan malam keakraban (makrab). Panitia malam keakraban adalah pengurus himpunan mahasiswa (hima) teknik elektro. Ada beberapa syarat untuk menjadi pengurus himpunan mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa aktif teknik elektro tingkat 2 dan tingkat 3, yang kedua adalah mengikuti serangkaian acara untuk anggota himpunan, salah satunya malam keakraban dan yang terakhir adalah mempunyai atribut himpunan lengkap, meliputi syal, baju angkatan dan jaket himpunan.

Riri masih kuliah tingkat 2. Jadi ini adalah tahun pertama Riri dan Fajar menjadi panitia malam keakraban. Setiap acara pasti ada yang namanya susunan kepanitiaan. Riri dan Fajar di tempatkan di divisi yang sama, yaitu divisi tata tertib (tatib). Divisi ini memiliki tugas untuk menertibkan seluruh panitia lain dan peserta makrab sekaligus menjaga ketertiban selama acara berlangsung, mengingat mereka melakukan kegiatan tersebut di alam bebas. Tahun pertama Riri dan Fajar menjadi panitia tapi sudah mendapatkan tugas yang lumayan berat.

Mereka memerlukan waktu kurang lebih 1 jam dari kampus untuk mecapai gerbang awal tempat camping makrab. Salah satu panitia dari tingkat 3, Tigor selaku divisi lapangan ditugaskan untuk menjemput Riri dan Fajar.

 

“Acaranya dimulai udah sholat magrib kan bang?” Tanya Riri pada Tigor

“di rundown sih mulai jam setengah tujuh” jelas Tigor kepada Riri.

“Ya udah kita nunggu di sini aja dulu, lagian masih jam 5, santai aja, di basecamp kan udah ada anak-anak tatib yang lain” sambung Riri.

 

“Sekarang aja sih! Mumpung masih terang nih, entar keburu gelap, aku ga mau tracking gelap-gelap, mana cuma bertiga lagi” Dwi menolak saran Riri.

“Kalem aja masbro, ini kang Ansa barusan sms aku, katanya dia udah di jalan mau ke sini sama anak-anak tingkat 4 lainnya. Jadi ya sekalian aja barengan mereka ke basecamp nya, lagian punggung aku masih pegel nih manggul tas segede karung beras itu.”

“Oohh, oke deh klo gitu. Kamu ga keberatan kan bang klo kita nunggu tingkat 4 lainnya?” tanya Fajar ke Tigor.

“Ga kok, aku bisa ngerokok dulu klo gitu, di bawah ga bisa ngerokok, udah ada tata tertibnya kan” Tigor mengiyakan ajakan Riri.

Riri, Fajar dan Tigor istirahat di sebuah warung yang tidak jauh dari gerbang utama camping ground. Sambil Tigor merokok, Riri membeli cemilan-cemilan untuk dimakan bersama. Saat kami lagi nongkrong, tiba-tiba pemilik warung menyuguhkan mereka jagung rebus yang masih panas.

“Bu, ga usah repot-repot. Kami cuma numpang sebentar sambil nunggu teman-teman yang lain” basa-basi Riri kepada pemilik warung. Hahaha. Padahal keenakan, udara dingin disuguhin jagung rebus panas.

“Ga apa-apa atuh neng, kasian keliatannya pada cape pisan.”

“Makasih banyak ya bu, jadi ga enak kaminya, udah numpang malah dikasih jagung hehe” basa-basi terus, namanya juga perempuan. Hahaha.

“Jagungnya lucu bu. Jenis jagung apa ini bu?” tanya Fajar ke ibu pemilik warung.

“Kata orang sini mah, itu teh namanya jagung Belanda.”

“Kenapa dinamain jagung Belanda bu?”

“Oh, kayaknya aku tau kenapa disebut jagung Belanda” seru Riri kepada Fajar dan pemilik warung.

“Jangan sok tau Ri.”

“Warna jagungnya ga kuning semua, ada warna yang masih kuning muda banget nyaris putih. Kan klo bule-bule rambutnya suka ada yang pirang. Kayaknya gitu deh makanya disebut jagung Belanda.”

“Sok tau banget nih bocah! Kalau bule-bule kan biasanya tinggi. Ga sesuai sama bentuk jagungnya yang pendek-pendek gini” Fajar tidak terima dengan penjelasanku.

“Si neng pinter euy bisa tau kenapa disebut jagung Belanda” pemilik warung memuji Riri

“Iya bu, soalnya baru kali ini juga ngeliat jagung yang warnanya ga rata kayak gini. Biasanya kan jagung-jagung yang di pasaran warnanya kuning semua”

“Tapi manis kan neng rasanya?” pemilik warung menanyakan rasa jagungnya.

“Iya bu manis banget, ga jauh beda sama saya” Riri memuji diri sendiri. Hahaha. Narsisme.

Tapi Fajar sepertinya sudah enek melihat sikap Riri yang sudah dipuji pemilik warung dilanjutkan dengan memuji diri sendiri. Kelihatan jelas dari air mukanya. Hahaha.

“Aku gak sok tau kan, jadi kali ini aku yang menang ya Jar. Maaf aja nih” seru Riri kepada Fajar.

“Kali ini kamu boleh menang, tapi tidak untuk selanjutnya, liat aja!” ancam Fajar kepada Riri.

“Neng Riri sama Aa Fajar pacaran?” tanya pemilik warung kepada Riri

“Hahahahahaha” Tigor ketawa setelah mendengar pertanyaan ibu pemilik warung.

“Idiiiiihh males banget bu saya pacaran sama cewe nyebelin kayak dia”

“Ga boleh ngomong gitu A', nanti pacaran beneran gimana hayoo?” ibu pemilik warung meledek Fajar

“Iya Jar, kamu ga boleh ngomong gitu, nanti tiba-tiba kamu suka sama aku, tapi aku ga suka sama kamu gimana?” ejek Riri kepada Fajar.

“Klo kebalikan gimana Ri? kamu yang suka sama aku tapi aku ga suka sama kamu?” Fajar balik meledek Riri

“Aku sih bakalan maksa kamu buat suka sama aku Jar. Hahaha”

Gelo maneh[1] Ri”

“Kalian cocok pisan ih, resep[2] ibu liatnya” pemilik warung menggoda mereka berdua.

Sudah jadi hal yang biasa kalau ada yang menanyakan hal semacam itu kepada Riri dan Fajar. Kalau kata orang-orang sekitar mereka sih, memang kedekatan mereka bukan hal yang wajar untuk ukuran sebatas teman. Tapi ya memang begitu adanya, hubungan Riri dan Fajar tidak lebih dari seorang sahabat. Fajar bisa mengerti Riri tanpa harus Riri bicara panjang lebar, begitu sebaliknya, Riri bisa mengerti Fajar tanpa harus Fajar bicara panjang lebar kepada Riri. Semacam ada telepati yang tercipta diantara mereka berdua.

“Kenapa kalian berdua ga jadian aja sih? Udah cocok juga, udah saling mengerti” celetukan Tigor, membuat ibu penjaga warung yang sedari tadi menemani mereka semakin berapi-api menjodohkan mereka.

“Iya neng, kenapa ga pacaran aja sih, cocok hayoo. Jarang-jarangkan bisa nemu yang saling cocok gini. Pasti langgeng sampe nikah klo kayak gini mah”

“hahaha muka kalian kayak kepiting rebus tau ga, merah semuaaa” tawa Tigor.

“Ih, si neng sama si Aa isineun kitu[3]” goda ibu pemilik warung.

“Ejek aja teruuuuss” ucap Riri kesal.

“Kang Ansa udah sampe mana Ri? Udah magrib juga nih” Dwi mengalihkan pembicaraan.

“Udah di Maribaya katanya” jawab Riri sambil melihat handphone.

“Bu, kami boleh numpang sholat ga disini?” Fajar meminta izin kepada ibu pemilik warung.

“Boleh atuh A, sok masuk, tasnya dibawa masuk aja, kamar mandinya ada di sini” ibu pemilik warung mempersilahkan mereka masuk sambil menunjukkan kamar mandi untuk tempat wudhu.

“Sholatnya gantian aja ya, sambil aku nunggu kang Ansa sama yang lainnya disini” jelas Tigor.

Setelah mereka semua beres sholat, kang Ansa dan teman-teman seangkatannya pun sudah sampai. Mereka izin pamit dan berterimaksaih kepada ibu pemilik warung yang sudah berbaik hati menemani mereka.

“Ibu terima kasih banyak sudah menemani kami, menyuguhkan jagung yang rasanya manis seperti saya” pamit Riri kepada ibu pemilik warung.

“ini bocah emang bener-bener narsis ya” Fajar menjitak kepala Riri

“aduuhhh” Riri mengaduh kesakitan.

“Eh, atuh Aa Fajar jangan gitu ke calon pacar teh” ibu pemilik warung membuka ruang gosip untuk akang-akang dan teteh-teteh tingkat 4.

Hah naon, calon pacar? Urang tinggaleun gosip euy jigana[4] seru kang Ansa.

“Engga kang, si ibu aja yang ngejodoh-jodohin aku sama si Fajar” tameng Riri terpasang dengan sangat siaga.

“oh kirain teh beneran gitu calon pacar. Tapi da emang cocok sih kalian”

yaah tameng aku sia-sia nih, alamat ada gosip baru beredar” ucap Riri dalam hati.

“Ya udah bu, kami pamit dulu ya, sekali lagi terimakasih banyak” ucap Tigor.

“Iya, sama-sama. Sukses acaranya dilancarkan semuanya, selamat sehat semua sampai acara selesai”

“aamiin” mereka semua mengamini apa yang ibu pemilik warung ucapkan.

“assalamu’alaikum” pamit Riri

“wa’alaikumsalam” jawab ibu pemilik warung.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju basecamp makrab. Untuk mencapai basecamp, mereka harus tracking menuruni bukit dengan durasi sekitar 15-20 menit. Jalur yang dilewati tidak begitu curam, hanya saja kemarin hujan turun dan jalanan menjadi licin. Sehingga mereka harus berhati-hati menuruni bukit.

[1] Gila kamu

[2] Senang/suka

[3] Malu-malu gitu

[4] Hah apa? Calon pacar? Saya ketinggalan gosip nih sepertinya.