“menghayati banget sih Ri sama lagu ini”.
“lagu-lagunya Adele tuh emang paling enak dihayati,
dinyayiin dari relung hati terdalam, biar kerasa feel nya”
“iya sih, lagunya Adele itu emang paling enak buat
galau”
“betuuuuul, lanjut lovesong
siihh”
“siap tuan puteri, this
is my favorite song right now!”
“Whenever I am
alone with you, you make feel like I am home again” seperti biasa suara
sumbang kulantunkan dengan sangat kencang.
Fajar PoV
“Ri, jangan keras-keras nyanyinya” aku mengingatkan
Riri agar tidak bernyanyi terlalu keras mengingat kita sedang ada di hutan.
“Eh iya iya, maaf. Suka ga kontrol kalau udah nyanyi
lagunya Adele tuh”
“Iya, tapi ingat kita lagi di hutan loh. Kalau
tiba-tiba ada yang ikutan nyanyi gimana?”
“Jar, please jangan bikin parno Jar. Kamu tahu kan
kalau aku orangnya penakut dan suka ovethinking”
Riri langsung memegang erat tanganku.
Hahaha. Riri tuh
emang lucu, dibalik mukanya yang jutek dan sifatnya yang childish tapi dia sebenarnya anak yang penakut. Aku jadi ingat
beberapa waktu lalu kita ada rapat di ruang himpunan sampai jam 9 malam.
Kondisi lampu-lampu koridor kampus sudah dimatikan sebagian sama satpam. Riri
yang saat itu harus ke toilet sampai tidak jadi karena melihat kondisi koridor
yang sudah gelap. Waktu ditanya kenapa balik lagi dia menjawab “Koridor udah
gelap, aku takut gelap kalau diteruskan nanti aku pingsan gimana? Kan gak lucu”.
Riri se overthingking itu, padahal
jarak dari ruang himpunan ke toilet hanya sekitar 15 meter.
Riri memiliki sifat keras kepala dan manja. Tapi di balik sifat keras kepala
dan manjanya dia adalah sosok yang rapuh. Riri bukan orang yang suka
menceritakan masalah pribadinya terutama mengenai keluarga kepada siapapun,
kecuali kepadaku. Meski pun aku tahu, tidak semuanya dia ceritakan. Pernah aku
tanyakan kepadanya, kenapa dia mau menceritakan lukanya itu kepadaku.
Jawabannya simple, karena aku tidak
pernah men-judge. Aku rasa dia hanya
butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya, lain kata Riri butuh sosok
seorang ibu tempat mengadukan keluh kesah. Sepengetahuanku ibu nya memang sudah
meninggal sejak Riri kelas 6 SD dan dia
tinggal bersama kakak ayahnya di Bandung.
Diam-diam aku suka
memperhatikan gerak gerik Riri. Yang mulanya hanya memperhatikan tingkah
lakunya, berlanjut suka screenshot
pesan-pesannya, sampai diam-diam mengambil foto-fotonya. Terkesan sebagai
seorang penguntit sih, tapi aku senang kalau mengingat-ngingat tentang Riri.
Suka membaca ulang pesan-pesannya dari handphone,
melihat berbagai ekspresi mukanya yang lucu. Tapi, Riri tidak pernah tahu hal
itu, bisa-bisa aku dilaporkan ke polisi karena jadi penguntit secara tidak
langsung. Semua ku jadikan koleksi pribadi di handphone ku.
Aku tidak tahu,
perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan kepada Riri. Yang jelas aku tidak mau
melihatnya sedih, baik itu karena keluarganya ataupun kisah cintanya. Riri anak
yang cukup ekspresif, dia dengan mudah memperlihatkan emosional yang dia punya.
Pernah suatu hari dia lagi kesal dengan salah satu teman sekelas kami, dia bisa
seharian cemberut dan tidak ada yang ditanya satupun sampai mata kuliah
terakhir. Teman-teman yang membuat kesal akhirnya mengejar-ngejar Riri agar
dimaafkan karena sudah membuat kesal. Jangan sekali-kali membuat Riri kesal
kalau tidak mau didiamkan seharian olehnya.
---
Author Pov
Kelompok terakhir telah
sampai di pos api unggun, saatnya acara renungan di mulai. Memang sangat
klasik, setelah acara hyking malam
diakhiri dengan api unggun dan renungan. Acara renungan dipimpin oleh divisi
rohani, kang Wiguna. Semua peserta, panitia dan tamu undangan sangat khidmat
mengikuti acara ini. Ada yang menangis, ada tertidur karena mengantuk, ada yang
sibuk mengelap ingusnya yang keluar bagaikan keran bocor. Hahaha. Siapa lagi
kalau bukan Riri. Alergi dingin yang dideritanya membuat Riri tidak tahan dengan
udara dingin.
“Ri, mending kamu ke
api unggun aja, biar ga terlalu dingin” bisik Fajar.
“Ga pa-pa Jar, disini
aja. Masih bisa atasi kok meler nya”
“Tapi ingus kamu dari
tadi ga berhenti meler Ri”
“Resiko punya alergi
dingin ya gini Jar, mau gimana lagi coba”
“Mana tangan kamu?”
Fajar meminta tangan Riri. Segera Fajar menggenggam tangan Riri dan dimasukan
ke saku jaketnya.
“Jar, kalau dilihat
yang lain ga enak, nanti tuh bibir bapak-bapak tukang gosip makin nyerocos”
sebisa mungkin Riri menarik tangannya agar keluar dari saku jaket Fajar.
“Ga pa-pa Ri, biar ga
terlalu dingin banget. Aku kasian sama kamu.”
Ya, posisi mereka
memang agak sedikit jauh dari api unggun sehingga api unggun tidak bisa
menghangatkan tubuh mereka. Tidak jauh dari tempat Riri dan Fajar duduk. Giri
dari tadi memperhatikan tingkah laku mereka. Lebih tepatnya memperhatikan
tingkah laku Riri, agar dia bisa mengambil kesimpulan perasaan Riri terhadap
Fajar. Riri terlalu pandai berkamuflase untuk menyembunyikan perasaannya.
Perhatian Riri kepada Fajar dan teman-teman yang lain sama.
---
Rangkaian acara
berakhir di api unggun. Waktu menunjukkan pukul 04.30 saatnya menunaikan ibadah
sholat subuh. Setelah sholat subuh dilanjutkan acara bebas sampai pukul 07.00,
ada yang memilih mengobrol dekat api unggun sambil memainkan gitar, ada yang
memutuskan untuk mengistirahatkan mata sejenak, ada yang sibuk eksplor tempat camping yang indah ini dengan danau
kecil di dekat tenda berdiri. Kecuali divisi konsumsi yang sibuk di dapur umum
untuk membuat sarapan pagi. Fajar memutuskan untuk istirahat di tenda panitia
dan Riri memutuskan untuk eksplor tempat ini.
“Ri, aku mau tidur
dulu ya ngantuk banget soalnya”
“Iya Jar, tidur gih.
Bahaya kalau ngantuk, soalnya kan kamu bawa motor nanti pulangnya, kalau aku
sih gampang tinggal molor di motor nanti. Hahaha”
“Ye kutu kupret, pulangnya
naik angkot sana. Ogah bonceng kamu terus nganterin ke Cimahi dulu”
“Oh jadi gitu, oke
Jar nanti aku pulangnya naik angkot” pundung[10] mode on.
“Yaahh dia pundung.
Ri, jangan pundung dong”
“Udah sana tidur, aku
mau pergi dulu, bhaaayyy” Riri berlalu dan coba mengeksplor tempat indah ini.
Sebenarnya Riri takut karena langit masih gelap. Jadi sebelum memutuskan untuk
mengeksplor tempat ini, Riri ikut gabung bersama tingkat 4 yang sedang main
gitar di dekat api unggun. Lumayan untuk membuat diri sedikit hangat dan
memberhentikan cairan yang keluar dari hidung. Di api unggun ada Ansa dan
tingkat 4 lainnya Ada juga beberapa tingkat 1 yang ingin ikut menghangatkan
badan.
“Pacar mana Ri?” Ansa
bertanya saat Riri ikut duduk di sebelahnya.
“Pacar siapa? Pacar
Kang Ansa? Kan ada di Rancaekek di rumahnya”
“Pacar kamu lah Fajar.
Kenapa tiba-tiba ke Gendis”
“Kan akang nanya
pacar, ya pacar akang kan Gendis, ada di Rancaekek. Aku kan ga punya pacar”
“Masa sih, ga yakin
akang kamu ga ada hubungan special sama Fajar”
“Aku ga maksa akang
untuk percaya sama aku kok, musyrik kang percaya sama aku mah. Udah ah dari
pada bahas Fajar mending kita nyanyi, kasian gitarnya nanti dia nangis
gara-gara dicuekin”
“Teh, emangnya gitar
bisa nangis ya?” Tanya salah satu mahasiswa tingkat 1.
“Hahahaha. Manusia paling
aneh di elektro jangan didengar omongannya”
“Ga pa-pa aku aneh
yang penting aku cantik kata ayah aku” Ansa menjitak kepala Riri.
“Aduuhh sakit. Jahat
iiihh dia mah!”, “Yaudah yuk nyanyi lagunya Project Pop – Ingatlah hari ini. Kang
Ansa tau chord nya kan?” Tanya Riri
“Bisa Ri. Tu, wa, ga”
“Kawan dengarlah yang
akan aku katakan, tentang dirimu setelah selama ini…”
Semua yang ada di
dekat api unggun ikut bernyanyi. Lagu ini sengaja dipilih Riri, karena belum
tentu tahun-tahun berikutnya tingkat 4 bisa ikut lagi acara malam keakraban karena
kemungkinan sudah lulus dan akan sibuk dengan dunia masing-masing.
“Kamu sangat berarti
istimewa di hati selamanya rasa ini, jika tua nanti kita t’lah hidup
masing-masing ingatlah hari ini” semua serempak menyanyikan lagu ini sambil
merangkul satu sama lain. Panitia dan peserta lain yang tidak ada kerjaan ikut
berkumpul di api unggun dan nyanyi bersama.
[10] Merajuk