Rabu, 28 Agustus 2019

Satu: Riri dan Fajar

“Dari mana aja kamu jam segini baru nyampe? Yang lain udah pada pergi dari satu jam yang lalu”

“Ya maaf, tadi di jalan macet banget Ri. Kamu kan tau rumah aku jauh” Fajar teman sekelas Riri membela diri.

“Emang rumah kamu aja yang jauh. Rumah aku juga jauh tapi aku masih bisa dateng on time. Naik angkutan umum pula” jawab Riri dengan emosi memuncak diubun-ubun kepala. Untung masih ada angin sepoi-sepoi yang membuat Riri sedikit lebih adem.

“Ya udah jangan marah-marah, cepat naik ke motor" perintah Fajar.

Riri menyengir senang sambil memanggul tas ransel besar yang berisi peralatan camping. Saat akan menaiki motor, kakinya terpleset di step motor. “Aduuhhh”

“Hati-hati naiknya Riri Agustari”

Riri mendongak, mendapati seraut wajah oval, tulang pipi tinggi, hidung mancung dan kulit berwarna sawo matang sedang menatapnya sambil menggelengkan kepalanya. Fajar sudah tidak heran dengan tingkah laku Riri yang ceroboh dan suka membahayakan diri sendiri. Namun tetap saja Riri masih tidak habis pikir kenapa Fajar masih mau berteman dengannya. 

Riri dan Fajar melanjutkan perjalanan menuju tempat camping. Agar perjalanan tidak membosankan, mereka berbincang-bincang.

"Kamu kok tumben pake motor matic Jar? Motor kopling kamu mana? dijual?” Tanya Riri ke Fajar.

“Ada di rumah, kalau aku pake motor kopling yang ada kamu ga bisa nebeng Ri” jelas Fajar.

“Oh iya juga ya, motor kamu yang satu itu kan aku julukin motor egois, motor yang punya jok belakang sempit hahaha”

“Maka dari itu aku ga bawa motor kopling, biar kamu ga nyerocos terus di jalan karena ga nyaman duduk di motorku”

You know me so well, girl I need you, girl I love you, girl I heart you” dengan suara agak kencang dan sedikit sumbang, Riri menyanyikan salah satu  lagu boyband asal Kota Bandung yang sedang hits saat itu.

“Ya Tuhan, temen aku yang satu ini malu-maluin banget sih. Ri, kamu mau diem atau aku turunin di jalan? Malu aku bawa kamu”

Bisa dibayangkan muka Fajar yang mungkin sudah seperti kepiting rebus karena menahan malu liat kelakuan Riri di atas motor yang pecicilan. Hahaha. Untung saja teman Riri yang satu ini bisa memaklumi kelakuan Riri yang terkadang sedikit menjengkelkan dan sangat memalukan. Riri senang berteman dengan Fajar. Fajar menerima Riri apa adanya, tapi tetap menegurku apabila sikap Riri tidak dapat ditoleransi lagi.

“Hahahahaha iya iya maap, ga akan nyanyi sambil teriak-teriak lagi deh” janji Riri

“Aku sih ga masalah sama suara kamu karena udah biasa dengar. Tapiiiii aku kasian sama orang-orang yang denger suara kamu. Bisa-bisa mereka berak dijalan denger suara kamu. Hahahahaha”

“Kamvret” Riri memukul bahu Fajar dengan keras.

“Aduuuhh. hahaha” Fajar mengaduh kesakitan karena pukulanku.

 

Don’t be wrong baby. Fajar itu bukan pacar Riri, tapi mereka berteman baik. Riri kuliah disalah satu universitas swasta ternama di Kota Bandung jurusan teknik elektro. Jurusan yang terdengar sangar tapi elegan, mungkin sudah terbayang bagaimana rasanya jadi mahasiswa di jurusan ini. Tentunya perempuan menjadi kaum minoritas di jurusan ini, hanya terdapat 6 orang dari seluruh angkatan yang masih aktif kuliah di kampusnya.

Awal mula Riri dan Fajar berkenalan adalah saat pembagian kelas. Jurusan ini selalu konsiten mengenai jumlah mahasiswa. Setiap angkatan hanya ada dua kelas. Bukan karena masuk jurusan ini susah. Hanya yang memiliki nyali besar untuk masuk jurusan ini sedikit. Oops ralat. Untuk kampus lain mungkin banyak peminatnya, tapi di kampus mereka ya begini adanya. Sistem pembagian kelas cukup mudah, mahasiswa diurutkan sesuai nomor induk dari terkecil. Kelas TE-1 akan diisi sampai kuota mahasiswa penuh dan sisanya tergabung dengan kelas TE-2. Riri dan Fajar masuk di kelas TE-2. Tidak tahu, ini sebuah kesengajaan atau ada campur tangan Tuhan untuk mengatur mahasiswa mana saja yang masuk ke kelas TE-1 dan mahasiswa mana saja yang masuk ke kelas TE-2.

*flashback on*

Saat pembagian kelas telah selesai, setiap mahasiswa diwajibkan memperkenalkan diri, menyebutkan nama, asal sekolah dan alasan memilih jurusan teknik elektro.

“Perkenalkan nama saya Fajar Alfian, asal sekolah saya dari SMK Negeri Metro, alasan saya memilih jurusan ini karena ingin meneruskan apa yang telah saya pelajari di SMK” begitulah Dwi saat memperkenalkan dirinya. Selanjutnya giliranku.

“Perkenalkan nama saya Riri Agustari, asal sekolah SMK Negeri Budhi. Alasan masuk teknik elektro karena ingin bisa bikin robot, terimakasih”

Perlu diketahui, Riri terjebak di dalam dunia yang sebenarnya bukan passion nya. Berbeda dengan Dwi, dia mengambil jurusan teknik elektro karena ia meneruskan apa yang telah ia pelajari di sekolah mengah kejuruan. Sedangkan alasan Riri selain ingin bisa bikin robot, mungkin karena peluang kerjanya lebih besar saat lulus nanti. Atau mungkin karena Riri ingin mengikuti jejak kakaknya yang menjadi panutannya. Bagaimana tidak, kuliah di politeknik negeri di Kota Bandung, jenjang diploma III mulus 3 tahun dengan beasiswa penuh, rajin ibadah, cantik dan sekarang bekerja di Sclumberger dengan gaji yang fantastis dan sering berpergian ke luar negeri. Riri rasa alasan Fajar lebih masuk akal dibandingkan alasannya.

Riri dan Fajar duduk bersebelahan, karena mereka disuruh duduk sesuai urutan NIM. Saat sesi perkenalan secara resmi berakhir, mereka boleh mengobrol random.

“Kamu sekolah di Metro? Kenal yang namanya Yudistira?” Tanya Riri kepada Fajar.

“Yudistira? hmmmm” Fajar mencoba mengingat-ingat nama tersebut

“Iyaa, kamu kenal ga?”

“Oooh, iya, kenal, dia teman sekelas aku” jawab Fajar penuh keyakinan

“Oh gitu ya”

“Bentar-bentar, kamu kenal Yudis?” tanya Fajar heran.

“Cuma tau tapi ga kenal dekat”

“Kamu tau Yudis dari mana? Kamu pernah main ke sekolah aku?”

“Aku ga pernah main ke SMK Metro. Aku tau Yudistira karena dia rekan seangkatan aku di Paskibra Kota Bandung”

“Oh, kamu anak Paskibra. Keliatan sih, kemeja putih kamu beda dari yang lain. Kemeja kamu mirip kemeja yang Yudistira pakai kalau lagi upacara peringatan hari besar nasional di sekolah.”

Kemeja putih yang dimaksud ialah, baju Pakaian Dinas Harian yang mempunyai dua saku berlidah di bagian dada kanan dan dada kiri, di bahu ada lidah untuk meletakkan pangkat serta bahan kemeja yang sedikit lebih tebal dari kemeja putih biasa.

“Abis aku ga punya kemeja putih yang biasa. Ya udah pakai yang ada aja”

“Bedanya kamu ga pake atribut aja. Kan biasanya kalau pakai kemeja ini atributnya udah kayak panglima TNI. Segala sudut ada yang ditempel. Hahaha”

“Ya kali aku harus pakai LK, plat nama, wings angkatan, ephaulets sama kaporlap lainnya. Kan ga mungkin”

“Kalau kamu pakai, yang ada kamu disangka anak nyasar di kampus”

“Tapi ga apa-apa juga sih, biar aku terkenal, karena nyeleneh sendiri”

“Berani kamu pakai semua atribut itu ke kampus?”

“Ya jelas lah”

“Serius kamu berani?”

“Ya jelas engga maksud aku. Hahaha”

“Yee, aneh kamu. Hahaha”

Berawal dari percakapan singkat ini akhirnya Riri dan Fajar menjadi akrab. Riri dan Fajar tidak pernah kehabisan bahan obrolan, selalu ada bahan obrolan setiap harinya.

*flashback off*