“Dari mana aja kamu jam segini baru nyampe? Yang lain udah pada pergi dari satu jam yang lalu”
“Ya maaf, tadi
di jalan macet banget Ri. Kamu kan tau rumah aku jauh” Fajar teman sekelas Riri membela
diri.
“Emang rumah kamu aja yang jauh. Rumah aku juga jauh tapi aku masih bisa dateng on time. Naik angkutan umum pula”
jawab Riri dengan emosi memuncak diubun-ubun kepala. Untung masih ada angin
sepoi-sepoi yang membuat Riri sedikit lebih adem.
“Ya udah jangan marah-marah, cepat naik ke motor" perintah Fajar.
Riri menyengir
senang sambil memanggul tas ransel besar yang berisi peralatan camping. Saat akan menaiki motor,
kakinya terpleset di step motor.
“Aduuhhh”
“Hati-hati
naiknya Riri Agustari”
Riri mendongak, mendapati seraut wajah oval, tulang pipi tinggi, hidung mancung dan kulit berwarna sawo matang sedang menatapnya sambil menggelengkan kepalanya. Fajar sudah tidak heran dengan tingkah laku Riri yang ceroboh dan suka membahayakan diri sendiri. Namun tetap saja Riri masih tidak habis pikir kenapa Fajar masih mau berteman dengannya.
Riri dan Fajar melanjutkan perjalanan menuju tempat camping. Agar perjalanan tidak
membosankan, mereka berbincang-bincang.
"Kamu kok tumben pake motor matic Jar? Motor kopling kamu mana? dijual?” Tanya Riri ke Fajar.
“Ada di rumah, kalau aku pake motor kopling yang ada kamu ga bisa nebeng Ri” jelas Fajar.
“Oh iya juga ya, motor kamu yang satu itu kan aku julukin motor egois, motor yang punya jok belakang sempit hahaha”
“Maka dari itu aku ga bawa motor kopling, biar kamu ga
nyerocos terus di jalan karena ga nyaman duduk di motorku”
“You know me so
well, girl I need you, girl I love you, girl I heart you” dengan suara agak
kencang dan sedikit sumbang, Riri menyanyikan salah satu lagu
boyband asal Kota Bandung yang sedang hits saat itu.
“Ya Tuhan, temen aku yang satu ini malu-maluin banget
sih. Ri, kamu mau diem atau aku turunin di jalan? Malu aku bawa kamu”
Bisa dibayangkan muka Fajar yang mungkin sudah seperti kepiting rebus karena menahan malu liat kelakuan Riri di atas motor yang pecicilan.
Hahaha. Untung saja teman Riri yang satu ini bisa memaklumi kelakuan Riri yang
terkadang sedikit menjengkelkan dan sangat memalukan. Riri senang berteman
dengan Fajar. Fajar menerima Riri apa adanya, tapi tetap menegurku apabila sikap
Riri tidak dapat ditoleransi lagi.
“Hahahahaha iya iya maap, ga akan nyanyi sambil
teriak-teriak lagi deh” janji Riri
“Aku sih ga masalah sama suara kamu karena udah biasa
dengar. Tapiiiii aku kasian sama orang-orang yang denger suara kamu. Bisa-bisa
mereka berak dijalan denger suara kamu. Hahahahaha”
“Kamvret” Riri memukul bahu Fajar dengan keras.
“Aduuuhh. hahaha” Fajar mengaduh kesakitan karena
pukulanku.
Don’t be wrong baby. Fajar itu bukan pacar Riri, tapi mereka berteman baik.
Riri kuliah disalah satu universitas swasta ternama di Kota Bandung jurusan
teknik elektro. Jurusan yang terdengar sangar tapi elegan, mungkin sudah
terbayang bagaimana rasanya jadi mahasiswa di jurusan ini. Tentunya perempuan
menjadi kaum minoritas di jurusan ini, hanya terdapat 6 orang dari seluruh
angkatan yang masih aktif kuliah di kampusnya.
Awal mula Riri dan Fajar berkenalan adalah saat
pembagian kelas. Jurusan ini selalu konsiten mengenai jumlah mahasiswa. Setiap
angkatan hanya ada dua kelas. Bukan karena masuk jurusan ini susah. Hanya yang
memiliki nyali besar untuk masuk jurusan ini sedikit. Oops ralat. Untuk kampus lain mungkin banyak peminatnya, tapi di
kampus mereka ya begini adanya. Sistem pembagian kelas cukup mudah, mahasiswa
diurutkan sesuai nomor induk dari terkecil. Kelas TE-1 akan diisi sampai kuota
mahasiswa penuh dan sisanya tergabung dengan kelas TE-2. Riri dan Fajar masuk di
kelas TE-2. Tidak tahu, ini sebuah kesengajaan atau ada campur tangan Tuhan
untuk mengatur mahasiswa mana saja yang masuk ke kelas TE-1 dan mahasiswa mana
saja yang masuk ke kelas TE-2.
*flashback on*
Saat pembagian kelas telah selesai, setiap mahasiswa
diwajibkan memperkenalkan diri, menyebutkan nama, asal sekolah dan alasan
memilih jurusan teknik elektro.
“Perkenalkan nama saya Fajar Alfian, asal sekolah
saya dari SMK Negeri Metro, alasan saya memilih jurusan ini karena ingin
meneruskan apa yang telah saya pelajari di SMK” begitulah Dwi saat
memperkenalkan dirinya. Selanjutnya giliranku.
“Perkenalkan nama saya Riri Agustari, asal sekolah SMK
Negeri Budhi. Alasan masuk teknik elektro karena ingin bisa bikin robot,
terimakasih”
Perlu diketahui, Riri terjebak di dalam dunia yang
sebenarnya bukan passion nya. Berbeda
dengan Dwi, dia mengambil jurusan teknik elektro karena ia meneruskan apa yang
telah ia pelajari di sekolah mengah kejuruan. Sedangkan alasan Riri selain
ingin bisa bikin robot, mungkin karena peluang kerjanya lebih besar saat lulus
nanti. Atau mungkin karena Riri ingin mengikuti jejak kakaknya yang
menjadi panutannya. Bagaimana tidak, kuliah di politeknik negeri di Kota Bandung, jenjang diploma III mulus
3 tahun dengan beasiswa penuh, rajin ibadah, cantik dan sekarang bekerja di
Sclumberger dengan gaji yang fantastis dan sering berpergian ke luar negeri.
Riri rasa alasan Fajar lebih masuk akal dibandingkan alasannya.
Riri dan Fajar duduk bersebelahan, karena mereka disuruh
duduk sesuai urutan NIM. Saat sesi perkenalan secara resmi berakhir, mereka
boleh mengobrol random.
“Kamu sekolah di Metro? Kenal yang namanya Yudistira?” Tanya Riri kepada Fajar.
“Yudistira? hmmmm” Fajar mencoba
mengingat-ingat nama tersebut
“Iyaa, kamu kenal ga?”
“Oooh, iya, kenal, dia teman sekelas aku” jawab Fajar penuh keyakinan
“Oh gitu ya”
“Bentar-bentar, kamu kenal Yudis?” tanya Fajar heran.
“Cuma tau tapi ga kenal dekat”
“Kamu tau Yudis dari mana? Kamu pernah main ke sekolah aku?”
“Aku ga pernah main ke SMK Metro. Aku tau Yudistira karena dia rekan seangkatan aku di Paskibra Kota Bandung”
“Oh, kamu anak Paskibra. Keliatan sih, kemeja putih kamu beda dari yang lain. Kemeja kamu mirip kemeja yang Yudistira pakai
kalau lagi upacara peringatan hari besar nasional di sekolah.”
Kemeja putih yang dimaksud ialah, baju Pakaian Dinas
Harian yang mempunyai dua saku berlidah di bagian dada kanan dan dada kiri, di bahu ada
lidah untuk meletakkan pangkat serta
bahan kemeja yang sedikit lebih tebal dari kemeja putih biasa.
“Abis aku ga punya kemeja putih yang biasa. Ya udah
pakai yang ada aja”
“Bedanya kamu ga pake atribut aja. Kan biasanya kalau
pakai kemeja ini atributnya udah kayak panglima TNI. Segala sudut ada yang
ditempel. Hahaha”
“Ya kali aku harus pakai LK, plat nama, wings angkatan, ephaulets sama kaporlap lainnya. Kan ga mungkin”
“Kalau kamu pakai, yang ada kamu disangka anak nyasar di
kampus”
“Tapi ga apa-apa juga sih, biar aku terkenal, karena
nyeleneh sendiri”
“Berani kamu pakai semua atribut itu ke kampus?”
“Ya jelas lah”
“Serius kamu berani?”
“Ya jelas engga maksud aku. Hahaha”
“Yee, aneh kamu. Hahaha”
Berawal dari percakapan singkat ini akhirnya Riri dan Fajar menjadi akrab. Riri dan Fajar tidak pernah kehabisan bahan obrolan, selalu
ada bahan obrolan setiap harinya.
*flashback off*