Selasa, 13 September 2022

Enam: Api Unggun

“menghayati banget sih Ri sama lagu ini”.

“lagu-lagunya Adele tuh emang paling enak dihayati, dinyayiin dari relung hati terdalam, biar kerasa feel nya”

“iya sih, lagunya Adele itu emang paling enak buat galau”

“betuuuuul, lanjut lovesong siihh”

“siap tuan puteri, this is my favorite song right now!

Whenever I am alone with you, you make feel like I am home again” seperti biasa suara sumbang kulantunkan dengan sangat kencang.

Fajar PoV

“Ri, jangan keras-keras nyanyinya” aku mengingatkan Riri agar tidak bernyanyi terlalu keras mengingat kita sedang ada di hutan.

“Eh iya iya, maaf. Suka ga kontrol kalau udah nyanyi lagunya Adele tuh”

“Iya, tapi ingat kita lagi di hutan loh. Kalau tiba-tiba ada yang ikutan nyanyi gimana?”

“Jar, please jangan bikin parno Jar. Kamu tahu kan kalau aku orangnya penakut dan suka ovethinking” Riri langsung memegang erat tanganku.

Hahaha. Riri tuh emang lucu, dibalik mukanya yang jutek dan sifatnya yang childish tapi dia sebenarnya anak yang penakut. Aku jadi ingat beberapa waktu lalu kita ada rapat di ruang himpunan sampai jam 9 malam. Kondisi lampu-lampu koridor kampus sudah dimatikan sebagian sama satpam. Riri yang saat itu harus ke toilet sampai tidak jadi karena melihat kondisi koridor yang sudah gelap. Waktu ditanya kenapa balik lagi dia menjawab “Koridor udah gelap, aku takut gelap kalau diteruskan nanti aku pingsan gimana? Kan gak lucu”. Riri se overthingking itu, padahal jarak dari ruang himpunan ke toilet hanya sekitar 15 meter.


Riri memiliki sifat keras kepala dan manja. Tapi di balik sifat keras kepala dan manjanya dia adalah sosok yang rapuh. Riri bukan orang yang suka menceritakan masalah pribadinya terutama mengenai keluarga kepada siapapun, kecuali kepadaku. Meski pun aku tahu, tidak semuanya dia ceritakan. Pernah aku tanyakan kepadanya, kenapa dia mau menceritakan lukanya itu kepadaku. Jawabannya simple, karena aku tidak pernah men-judge. Aku rasa dia hanya butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya, lain kata Riri butuh sosok seorang ibu tempat mengadukan keluh kesah. Sepengetahuanku ibu nya memang sudah meninggal  sejak Riri kelas 6 SD dan dia tinggal bersama kakak ayahnya di Bandung.

Diam-diam aku suka memperhatikan gerak gerik Riri. Yang mulanya hanya memperhatikan tingkah lakunya, berlanjut suka screenshot pesan-pesannya, sampai diam-diam mengambil foto-fotonya. Terkesan sebagai seorang penguntit sih, tapi aku senang kalau mengingat-ngingat tentang Riri. Suka membaca ulang pesan-pesannya dari handphone, melihat berbagai ekspresi mukanya yang lucu. Tapi, Riri tidak pernah tahu hal itu, bisa-bisa aku dilaporkan ke polisi karena jadi penguntit secara tidak langsung. Semua ku jadikan koleksi pribadi di handphone ku.

Aku tidak tahu, perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan kepada Riri. Yang jelas aku tidak mau melihatnya sedih, baik itu karena keluarganya ataupun kisah cintanya. Riri anak yang cukup ekspresif, dia dengan mudah memperlihatkan emosional yang dia punya. Pernah suatu hari dia lagi kesal dengan salah satu teman sekelas kami, dia bisa seharian cemberut dan tidak ada yang ditanya satupun sampai mata kuliah terakhir. Teman-teman yang membuat kesal akhirnya mengejar-ngejar Riri agar dimaafkan karena sudah membuat kesal. Jangan sekali-kali membuat Riri kesal kalau tidak mau didiamkan seharian olehnya.

---

Author Pov

Kelompok terakhir telah sampai di pos api unggun, saatnya acara renungan di mulai. Memang sangat klasik, setelah acara hyking malam diakhiri dengan api unggun dan renungan. Acara renungan dipimpin oleh divisi rohani, kang Wiguna. Semua peserta, panitia dan tamu undangan sangat khidmat mengikuti acara ini. Ada yang menangis, ada tertidur karena mengantuk, ada yang sibuk mengelap ingusnya yang keluar bagaikan keran bocor. Hahaha. Siapa lagi kalau bukan Riri. Alergi dingin yang dideritanya membuat Riri tidak tahan dengan udara dingin.

“Ri, mending kamu ke api unggun aja, biar ga terlalu dingin” bisik Fajar.

“Ga pa-pa Jar, disini aja. Masih bisa atasi kok meler nya”

“Tapi ingus kamu dari tadi ga berhenti meler Ri”

“Resiko punya alergi dingin ya gini Jar, mau gimana lagi coba”

“Mana tangan kamu?” Fajar meminta tangan Riri. Segera Fajar menggenggam tangan Riri dan dimasukan ke saku jaketnya.

“Jar, kalau dilihat yang lain ga enak, nanti tuh bibir bapak-bapak tukang gosip makin nyerocos” sebisa mungkin Riri menarik tangannya agar keluar dari saku jaket Fajar.

“Ga pa-pa Ri, biar ga terlalu dingin banget. Aku kasian sama kamu.”

Ya, posisi mereka memang agak sedikit jauh dari api unggun sehingga api unggun tidak bisa menghangatkan tubuh mereka. Tidak jauh dari tempat Riri dan Fajar duduk. Giri dari tadi memperhatikan tingkah laku mereka. Lebih tepatnya memperhatikan tingkah laku Riri, agar dia bisa mengambil kesimpulan perasaan Riri terhadap Fajar. Riri terlalu pandai berkamuflase untuk menyembunyikan perasaannya. Perhatian Riri kepada Fajar dan teman-teman yang lain sama.

---

Rangkaian acara berakhir di api unggun. Waktu menunjukkan pukul 04.30 saatnya menunaikan ibadah sholat subuh. Setelah sholat subuh dilanjutkan acara bebas sampai pukul 07.00, ada yang memilih mengobrol dekat api unggun sambil memainkan gitar, ada yang memutuskan untuk mengistirahatkan mata sejenak, ada yang sibuk eksplor tempat camping yang indah ini dengan danau kecil di dekat tenda berdiri. Kecuali divisi konsumsi yang sibuk di dapur umum untuk membuat sarapan pagi. Fajar memutuskan untuk istirahat di tenda panitia dan Riri memutuskan untuk eksplor tempat ini.

“Ri, aku mau tidur dulu ya ngantuk banget soalnya”

“Iya Jar, tidur gih. Bahaya kalau ngantuk, soalnya kan kamu bawa motor nanti pulangnya, kalau aku sih gampang tinggal molor di motor nanti. Hahaha”

“Ye kutu kupret, pulangnya naik angkot sana. Ogah bonceng kamu terus nganterin ke Cimahi dulu”

“Oh jadi gitu, oke Jar nanti aku pulangnya naik angkot” pundung[10] mode on.

“Yaahh dia pundung. Ri, jangan pundung dong”

“Udah sana tidur, aku mau pergi dulu, bhaaayyy” Riri berlalu dan coba mengeksplor tempat indah ini. Sebenarnya Riri takut karena langit masih gelap. Jadi sebelum memutuskan untuk mengeksplor tempat ini, Riri ikut gabung bersama tingkat 4 yang sedang main gitar di dekat api unggun. Lumayan untuk membuat diri sedikit hangat dan memberhentikan cairan yang keluar dari hidung. Di api unggun ada Ansa dan tingkat 4 lainnya Ada juga beberapa tingkat 1 yang ingin ikut menghangatkan badan.

“Pacar mana Ri?” Ansa bertanya saat Riri ikut duduk di sebelahnya.

“Pacar siapa? Pacar Kang Ansa? Kan ada di Rancaekek di rumahnya”

“Pacar kamu lah Fajar. Kenapa tiba-tiba ke Gendis”

“Kan akang nanya pacar, ya pacar akang kan Gendis, ada di Rancaekek. Aku kan ga punya pacar”

“Masa sih, ga yakin akang kamu ga ada hubungan special sama Fajar”

“Aku ga maksa akang untuk percaya sama aku kok, musyrik kang percaya sama aku mah. Udah ah dari pada bahas Fajar mending kita nyanyi, kasian gitarnya nanti dia nangis gara-gara dicuekin”

“Teh, emangnya gitar bisa nangis ya?” Tanya salah satu mahasiswa tingkat 1.

“Hahahaha. Manusia paling aneh di elektro jangan didengar omongannya”

“Ga pa-pa aku aneh yang penting aku cantik kata ayah aku” Ansa menjitak kepala Riri.

“Aduuhh sakit. Jahat iiihh dia mah!”, “Yaudah yuk nyanyi lagunya Project Pop – Ingatlah hari ini. Kang Ansa tau chord nya kan?” Tanya Riri

“Bisa Ri. Tu, wa, ga”

“Kawan dengarlah yang akan aku katakan, tentang dirimu setelah selama ini…”

Semua yang ada di dekat api unggun ikut bernyanyi. Lagu ini sengaja dipilih Riri, karena belum tentu tahun-tahun berikutnya tingkat 4 bisa ikut lagi acara malam keakraban karena kemungkinan sudah lulus dan akan sibuk dengan dunia masing-masing.

“Kamu sangat berarti istimewa di hati selamanya rasa ini, jika tua nanti kita t’lah hidup masing-masing ingatlah hari ini” semua serempak menyanyikan lagu ini sambil merangkul satu sama lain. Panitia dan peserta lain yang tidak ada kerjaan ikut berkumpul di api unggun dan nyanyi bersama.

[10] Merajuk