Sabtu, 28 Desember 2019

Dua: Calon Pacar?

Setiap tahun jurusan teknik elektro di kampus selalu mengadakan malam keakraban (makrab). Panitia malam keakraban adalah pengurus himpunan mahasiswa (hima) teknik elektro. Ada beberapa syarat untuk menjadi pengurus himpunan mahasiswa yang pertama adalah mahasiswa aktif teknik elektro tingkat 2 dan tingkat 3, yang kedua adalah mengikuti serangkaian acara untuk anggota himpunan, salah satunya malam keakraban dan yang terakhir adalah mempunyai atribut himpunan lengkap, meliputi syal, baju angkatan dan jaket himpunan.

Riri masih kuliah tingkat 2. Jadi ini adalah tahun pertama Riri dan Fajar menjadi panitia malam keakraban. Setiap acara pasti ada yang namanya susunan kepanitiaan. Riri dan Fajar di tempatkan di divisi yang sama, yaitu divisi tata tertib (tatib). Divisi ini memiliki tugas untuk menertibkan seluruh panitia lain dan peserta makrab sekaligus menjaga ketertiban selama acara berlangsung, mengingat mereka melakukan kegiatan tersebut di alam bebas. Tahun pertama Riri dan Fajar menjadi panitia tapi sudah mendapatkan tugas yang lumayan berat.

Mereka memerlukan waktu kurang lebih 1 jam dari kampus untuk mecapai gerbang awal tempat camping makrab. Salah satu panitia dari tingkat 3, Tigor selaku divisi lapangan ditugaskan untuk menjemput Riri dan Fajar.

 

“Acaranya dimulai udah sholat magrib kan bang?” Tanya Riri pada Tigor

“di rundown sih mulai jam setengah tujuh” jelas Tigor kepada Riri.

“Ya udah kita nunggu di sini aja dulu, lagian masih jam 5, santai aja, di basecamp kan udah ada anak-anak tatib yang lain” sambung Riri.

 

“Sekarang aja sih! Mumpung masih terang nih, entar keburu gelap, aku ga mau tracking gelap-gelap, mana cuma bertiga lagi” Dwi menolak saran Riri.

“Kalem aja masbro, ini kang Ansa barusan sms aku, katanya dia udah di jalan mau ke sini sama anak-anak tingkat 4 lainnya. Jadi ya sekalian aja barengan mereka ke basecamp nya, lagian punggung aku masih pegel nih manggul tas segede karung beras itu.”

“Oohh, oke deh klo gitu. Kamu ga keberatan kan bang klo kita nunggu tingkat 4 lainnya?” tanya Fajar ke Tigor.

“Ga kok, aku bisa ngerokok dulu klo gitu, di bawah ga bisa ngerokok, udah ada tata tertibnya kan” Tigor mengiyakan ajakan Riri.

Riri, Fajar dan Tigor istirahat di sebuah warung yang tidak jauh dari gerbang utama camping ground. Sambil Tigor merokok, Riri membeli cemilan-cemilan untuk dimakan bersama. Saat kami lagi nongkrong, tiba-tiba pemilik warung menyuguhkan mereka jagung rebus yang masih panas.

“Bu, ga usah repot-repot. Kami cuma numpang sebentar sambil nunggu teman-teman yang lain” basa-basi Riri kepada pemilik warung. Hahaha. Padahal keenakan, udara dingin disuguhin jagung rebus panas.

“Ga apa-apa atuh neng, kasian keliatannya pada cape pisan.”

“Makasih banyak ya bu, jadi ga enak kaminya, udah numpang malah dikasih jagung hehe” basa-basi terus, namanya juga perempuan. Hahaha.

“Jagungnya lucu bu. Jenis jagung apa ini bu?” tanya Fajar ke ibu pemilik warung.

“Kata orang sini mah, itu teh namanya jagung Belanda.”

“Kenapa dinamain jagung Belanda bu?”

“Oh, kayaknya aku tau kenapa disebut jagung Belanda” seru Riri kepada Fajar dan pemilik warung.

“Jangan sok tau Ri.”

“Warna jagungnya ga kuning semua, ada warna yang masih kuning muda banget nyaris putih. Kan klo bule-bule rambutnya suka ada yang pirang. Kayaknya gitu deh makanya disebut jagung Belanda.”

“Sok tau banget nih bocah! Kalau bule-bule kan biasanya tinggi. Ga sesuai sama bentuk jagungnya yang pendek-pendek gini” Fajar tidak terima dengan penjelasanku.

“Si neng pinter euy bisa tau kenapa disebut jagung Belanda” pemilik warung memuji Riri

“Iya bu, soalnya baru kali ini juga ngeliat jagung yang warnanya ga rata kayak gini. Biasanya kan jagung-jagung yang di pasaran warnanya kuning semua”

“Tapi manis kan neng rasanya?” pemilik warung menanyakan rasa jagungnya.

“Iya bu manis banget, ga jauh beda sama saya” Riri memuji diri sendiri. Hahaha. Narsisme.

Tapi Fajar sepertinya sudah enek melihat sikap Riri yang sudah dipuji pemilik warung dilanjutkan dengan memuji diri sendiri. Kelihatan jelas dari air mukanya. Hahaha.

“Aku gak sok tau kan, jadi kali ini aku yang menang ya Jar. Maaf aja nih” seru Riri kepada Fajar.

“Kali ini kamu boleh menang, tapi tidak untuk selanjutnya, liat aja!” ancam Fajar kepada Riri.

“Neng Riri sama Aa Fajar pacaran?” tanya pemilik warung kepada Riri

“Hahahahahaha” Tigor ketawa setelah mendengar pertanyaan ibu pemilik warung.

“Idiiiiihh males banget bu saya pacaran sama cewe nyebelin kayak dia”

“Ga boleh ngomong gitu A', nanti pacaran beneran gimana hayoo?” ibu pemilik warung meledek Fajar

“Iya Jar, kamu ga boleh ngomong gitu, nanti tiba-tiba kamu suka sama aku, tapi aku ga suka sama kamu gimana?” ejek Riri kepada Fajar.

“Klo kebalikan gimana Ri? kamu yang suka sama aku tapi aku ga suka sama kamu?” Fajar balik meledek Riri

“Aku sih bakalan maksa kamu buat suka sama aku Jar. Hahaha”

Gelo maneh[1] Ri”

“Kalian cocok pisan ih, resep[2] ibu liatnya” pemilik warung menggoda mereka berdua.

Sudah jadi hal yang biasa kalau ada yang menanyakan hal semacam itu kepada Riri dan Fajar. Kalau kata orang-orang sekitar mereka sih, memang kedekatan mereka bukan hal yang wajar untuk ukuran sebatas teman. Tapi ya memang begitu adanya, hubungan Riri dan Fajar tidak lebih dari seorang sahabat. Fajar bisa mengerti Riri tanpa harus Riri bicara panjang lebar, begitu sebaliknya, Riri bisa mengerti Fajar tanpa harus Fajar bicara panjang lebar kepada Riri. Semacam ada telepati yang tercipta diantara mereka berdua.

“Kenapa kalian berdua ga jadian aja sih? Udah cocok juga, udah saling mengerti” celetukan Tigor, membuat ibu penjaga warung yang sedari tadi menemani mereka semakin berapi-api menjodohkan mereka.

“Iya neng, kenapa ga pacaran aja sih, cocok hayoo. Jarang-jarangkan bisa nemu yang saling cocok gini. Pasti langgeng sampe nikah klo kayak gini mah”

“hahaha muka kalian kayak kepiting rebus tau ga, merah semuaaa” tawa Tigor.

“Ih, si neng sama si Aa isineun kitu[3]” goda ibu pemilik warung.

“Ejek aja teruuuuss” ucap Riri kesal.

“Kang Ansa udah sampe mana Ri? Udah magrib juga nih” Dwi mengalihkan pembicaraan.

“Udah di Maribaya katanya” jawab Riri sambil melihat handphone.

“Bu, kami boleh numpang sholat ga disini?” Fajar meminta izin kepada ibu pemilik warung.

“Boleh atuh A, sok masuk, tasnya dibawa masuk aja, kamar mandinya ada di sini” ibu pemilik warung mempersilahkan mereka masuk sambil menunjukkan kamar mandi untuk tempat wudhu.

“Sholatnya gantian aja ya, sambil aku nunggu kang Ansa sama yang lainnya disini” jelas Tigor.

Setelah mereka semua beres sholat, kang Ansa dan teman-teman seangkatannya pun sudah sampai. Mereka izin pamit dan berterimaksaih kepada ibu pemilik warung yang sudah berbaik hati menemani mereka.

“Ibu terima kasih banyak sudah menemani kami, menyuguhkan jagung yang rasanya manis seperti saya” pamit Riri kepada ibu pemilik warung.

“ini bocah emang bener-bener narsis ya” Fajar menjitak kepala Riri

“aduuhhh” Riri mengaduh kesakitan.

“Eh, atuh Aa Fajar jangan gitu ke calon pacar teh” ibu pemilik warung membuka ruang gosip untuk akang-akang dan teteh-teteh tingkat 4.

Hah naon, calon pacar? Urang tinggaleun gosip euy jigana[4] seru kang Ansa.

“Engga kang, si ibu aja yang ngejodoh-jodohin aku sama si Fajar” tameng Riri terpasang dengan sangat siaga.

“oh kirain teh beneran gitu calon pacar. Tapi da emang cocok sih kalian”

yaah tameng aku sia-sia nih, alamat ada gosip baru beredar” ucap Riri dalam hati.

“Ya udah bu, kami pamit dulu ya, sekali lagi terimakasih banyak” ucap Tigor.

“Iya, sama-sama. Sukses acaranya dilancarkan semuanya, selamat sehat semua sampai acara selesai”

“aamiin” mereka semua mengamini apa yang ibu pemilik warung ucapkan.

“assalamu’alaikum” pamit Riri

“wa’alaikumsalam” jawab ibu pemilik warung.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju basecamp makrab. Untuk mencapai basecamp, mereka harus tracking menuruni bukit dengan durasi sekitar 15-20 menit. Jalur yang dilewati tidak begitu curam, hanya saja kemarin hujan turun dan jalanan menjadi licin. Sehingga mereka harus berhati-hati menuruni bukit.

[1] Gila kamu

[2] Senang/suka

[3] Malu-malu gitu

[4] Hah apa? Calon pacar? Saya ketinggalan gosip nih sepertinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar